IHSG Kembali Mencetak Rekor Tertinggi dan Ditutup di Level 9.075,41

Saham Kapitalisasi Jumbo Mendorong IHSG Menembus All Time High
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan kembali mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis (15/1/2026). Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG ditutup menguat 0,47% ke level 9.075,41, melampaui rekor sebelumnya yang tercipta sehari sebelumnya di posisi 9.032,58.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif di rentang 9.041 hingga 9.100,83. Kenaikan indeks terjadi seiring dominasi saham-saham berkapitalisasi besar yang kembali menjadi penggerak utama pasar. Aktivitas transaksi mencerminkan sentimen positif investor dengan 362 saham menguat, 342 saham melemah, dan 254 saham bergerak stagnan.
DCII, PANI, dan DSSA Menggerakkan Kenaikan Indeks
Dari jajaran saham unggulan, PT DCI Indonesia Tbk. mencatatkan penguatan paling menonjol setelah naik 3,71% ke harga Rp218.000 per saham. Kenaikan ini diikuti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. yang menguat 3,04% ke Rp11.850 serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. yang meningkat 2,80% ke Rp111.000.
Penguatan saham-saham tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap laju IHSG, sekaligus menegaskan minat investor yang tetap kuat terhadap emiten berfundamental besar di tengah tren kenaikan pasar.
Saham Perbankan Ikut Menguat Seiring Optimisme Likuiditas
Sektor perbankan turut menopang penguatan indeks. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menguat 4,13% ke Rp4.540, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang naik 3,10% ke Rp4.990. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tercatat menguat 2,69% ke Rp3.820, sementara PT Bank Central Asia Tbk. naik 0,94% ke Rp8.075.
Penguatan saham perbankan terjadi seiring ekspektasi pasar terhadap sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah yang dinilai mampu mendorong penyaluran kredit serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Analis Menilai Prospek Perbankan Tetap Menarik
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Farell Nathanael menilai sektor perbankan masih memiliki prospek positif meskipun menghadapi tekanan penurunan margin bunga bersih. Menurutnya, penurunan biaya dana yang didukung perbaikan likuiditas dan kebijakan moneter yang lebih longgar berpotensi meredam tekanan tersebut.
Farell menyebut saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI masih menarik karena valuasi yang relatif kompetitif serta imbal hasil dividen yang dinilai tetap solid, khususnya pada bank-bank milik negara.
