Pelemahan Rupiah Dekati Rp17.000 Memetakan Sektor Saham yang Diuntungkan dan Tertekan

Rupiah Melemah dan Membentuk Dinamika Baru di Pasar Saham
JAKARTA — Nilai tukar rupiah yang bergerak mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS menciptakan dampak yang berbeda di pasar saham Indonesia. Di tengah tekanan mata uang, sebagian sektor justru memperoleh keuntungan, sementara sektor lain mulai menghadapi tekanan biaya dan risiko penurunan margin.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai arah pasar saham domestik sepanjang 2026 masih berada dalam jalur konstruktif. Ia memproyeksikan IHSG bergerak menuju target base case 9.400 dan optimistis mencapai 10.200, dengan dukungan pemulihan laba emiten, perbaikan margin sektor utama, serta kondisi keuangan domestik yang lebih longgar.
Analis Menilai Optimisme Saham Berjalan Seiring Kewaspadaan Mata Uang
Menurut Andrey, optimisme pasar saham tidak sepenuhnya tercermin di pasar valuta asing. Rupiah cenderung bergerak terbatas karena tingginya permintaan struktural dolar AS, ketidakpastian suku bunga global, serta aktivitas lindung nilai investor asing. Kondisi ini menempatkan 2026 sebagai periode optimisme selektif di pasar saham dengan kehati-hatian pada sisi nilai tukar.
Pandangan serupa disampaikan Chief Economist and Head of Research BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto. Ia menilai pelemahan rupiah terlihat anomali di tengah derasnya arus masuk asing ke pasar obligasi dan ekuitas. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp16.956 per dolar AS pada Selasa, 20 Januari 2026, meski indeks dolar AS justru terkoreksi.
Emiten Ekspor Memetik Manfaat dari Pelemahan Rupiah
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut pelemahan rupiah secara alami menguntungkan emiten berorientasi ekspor. Pendapatan dalam dolar AS meningkat, sementara sebagian besar biaya masih berbasis rupiah.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menambahkan sektor komoditas seperti pertambangan emas, nikel, batu bara, serta crude palm oil cenderung memperoleh sentimen positif. Emiten dengan struktur pendapatan dolar dan biaya rupiah dinilai lebih defensif di tengah volatilitas nilai tukar.
Sektor Impor dan Emiten Berutang Dolar Menghadapi Tekanan
Sebaliknya, sektor yang bergantung pada bahan baku impor mulai merasakan tekanan. Emiten consumer goods tertentu, farmasi, serta manufaktur dengan porsi impor tinggi berpotensi mengalami kenaikan biaya dan penyempitan margin.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai pelemahan rupiah di tengah reli IHSG menunjukkan arus dana asing yang masih bersifat jangka pendek. Emiten dengan utang dolar AS besar dan tanpa lindung nilai memadai menjadi kelompok yang paling rentan terhadap fluktuasi kurs.
