Rupiah Melemah, Investor Asing Borong Saham RI Senilai Rp6,59 Triliun

Pelemahan rupiah membuka peluang beli saham Indonesia bagi investor asing
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mendekati level Rp17.000 membuka ruang bagi investor asing untuk berbelanja saham di pasar modal Indonesia dengan valuasi yang lebih murah. Kondisi ini terjadi di tengah fluktuasi mata uang global dan tekanan eksternal yang terus berlanjut.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi tipis 0,01% ke posisi Rp16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026). Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru melemah 0,74% ke level 98,66. Sejumlah mata uang Asia turut bergerak beragam, dengan yen Jepang, dolar Hong Kong, won Korea, peso Filipina, dan rupee India mengalami pelemahan, sementara yuan China dan dolar Singapura mencatat penguatan terbatas.
Investor asing mencatat beli bersih besar di pasar saham sepanjang 2026
Managing Director Samuel International Harry Su menilai depresiasi rupiah membuat saham-saham Indonesia lebih menarik di mata investor asing. Menurutnya, pelemahan kurs secara langsung menurunkan harga saham dalam denominasi dolar, sehingga meningkatkan daya tarik untuk akumulasi.
Sepanjang tahun berjalan 2026 hingga Senin (19/1/2026), investor asing membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp6,59 triliun di pasar saham Indonesia. Harry menjelaskan arus dana tersebut juga dipicu oleh antisipasi investor terhadap rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026.
Rebalancing MSCI memicu peluang sekaligus risiko arus modal
Meski demikian, Harry mengingatkan potensi risiko pembalikan arus dana asing apabila terjadi perubahan metodologi konstituen indeks MSCI, khususnya terkait persentase free float. Berdasarkan analisis MSCI Indonesia, perubahan aturan tersebut berpotensi memicu tekanan jual dengan estimasi outflow hingga US$2 miliar.
Harry juga menilai karakter investasi asing di pasar saham domestik cenderung berjangka pendek. Kondisi ini tercermin dari minimnya praktik lindung nilai valuta asing, sehingga pergerakan kurs berpotensi mempercepat arus keluar maupun masuk modal.
Sentimen global dan domestik terus menekan pergerakan rupiah
Terpisah, Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyebut dinamika global masih memberi tekanan pada rupiah. Ketegangan geopolitik terkait sikap Presiden AS Donald Trump terhadap Greenland serta rencana pengenaan tarif tambahan impor oleh Amerika Serikat memicu kembali kekhawatiran perang dagang.
Dari sisi domestik, sentimen relatif lebih positif setelah Dana Moneter Internasional merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,1% pada 2026 dan 2027. Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 5,1% pada 2026, didukung stimulus pemerintah dan peningkatan investasi.
Untuk perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
