IHSG Melonjak 0,72% ke Level 8.948 di Tengah Volatilitas Pasar

IHSG menutup perdagangan menguat meski fluktuasi intraday membesar
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (13/1/2026) dengan penguatan 0,72% atau bertambah 63,58 poin ke posisi 8.948,30. Bursa mencatat lonjakan tersebut di tengah kondisi pasar saham domestik yang masih bergerak volatil sejak awal pekan.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat berayun tajam dari level tertinggi ke terendah. Indeks bahkan kehilangan sekitar 115 poin atau terpangkas 1,28% sebelum akhirnya berhasil memulihkan hampir seluruh pelemahan menjelang penutupan. Pergerakan ini menegaskan tingginya sensitivitas pasar terhadap sentimen jangka pendek.
Aktivitas transaksi melonjak saat saham bergerak variatif
Bursa mencatat sebanyak 348 saham menguat, 327 saham melemah, dan 131 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi harian tergolong sangat ramai karena mencapai Rp33,43 triliun dengan volume 62,87 miliar saham dalam 3,80 juta transaksi.
Volatilitas yang muncul hari ini melanjutkan pola perdagangan sehari sebelumnya, ketika IHSG sempat tersungkur lebih dari 2% secara intraday. Meski koreksi kali ini tidak sedalam hari sebelumnya, pasar kembali menunjukkan pergerakan ekstrem dalam waktu singkat.
Saham Grup Bakrie menekan indeks saat sektor tertentu melemah
Saham-saham konglomerasi, terutama dari Grup Bakrie, kembali mendominasi aktivitas perdagangan dan menjadi pemberat utama IHSG. Saham Bumi Resources (BUMI) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) terkoreksi lebih dari 5%, sementara Darma Henwa (DEWA) tertekan hingga lebih dari 10%.
Secara sektoral, hanya sektor konsumer non-primer dan industri yang mencatat koreksi. Sebaliknya, sektor properti dan infrastruktur tampil sebagai penguat utama indeks. Tiga saham Grup Bakrie secara kumulatif menyumbang koreksi sebesar 22,53 poin indeks.
Saham unggulan dan aliran dana asing menopang penguatan
Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, TLKM, MBMA, BREN, dan MDKA menopang pergerakan positif IHSG. Pada sesi pertama perdagangan, investor asing membukukan pembelian Rp5,7 triliun dan penjualan Rp4,4 triliun, sehingga tercatat net foreign buy Rp1,3 triliun.
Astra International (ASII) memimpin daftar saham dengan pembelian asing terbesar senilai Rp149,3 miliar, disusul ADRO, MBMA, dan INCO. Saham perbankan dan komoditas mendominasi minat investor global.
Sentimen global dan domestik membentuk arah pasar awal 2026
Analis menilai volatilitas pasar dipicu aksi ambil untung di saham energi serta ketidakpastian geopolitik global. Memasuki 2026, indikator domestik menunjukkan pemulihan daya beli, tercermin dari pertumbuhan Indeks Penjualan Riil November 2025 sebesar 6,3% secara tahunan.
Dari global, kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi psikologis pasar. Harga Brent bertahan di US$63,42 per barel dan WTI di US$59,17 per barel, meski sentimen positif rencana ekspor minyak Venezuela menahan lonjakan lebih lanjut.
