Data Ekonomi Gagal Mengangkat Pasar Saham saat Arus Asing Terus Keluar

Rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,11% belum mampu mendorong penguatan pasar saham domestik. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati karena masih mencermati risiko global dan isu struktural pasar modal yang dinilai menahan minat beli investor.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 0,53% ke level 8.103,87 pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan arus modal keluar senilai Rp469,81 miliar, menegaskan tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar.
Pelaku Pasar Menilai Data Pertumbuhan Sudah Tercermin di Harga Saham
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,11% mencerminkan fondasi makroekonomi yang solid, terutama karena ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan stabilitas kebijakan pemerintah. Namun, pasar saham tidak merespons agresif karena sebagian besar data tersebut telah lebih dulu diperhitungkan oleh investor.
Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini memandang data ekonomi sebagai sinyal resiliensi, bukan sebagai katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong reli lanjutan. Fokus investor justru bergeser pada agenda pembenahan pasar modal dan dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Kinerja PDB Kuartal IV Menguat tetapi Sentimen Pasar Tetap Tertahan
Pertumbuhan produk domestik bruto pada kuartal IV/2025 tercatat sebesar 5,39% secara tahunan, menjadi level tertinggi sejak pandemi Covid-19. Capaian ini mengonfirmasi perbaikan momentum ekonomi pada paruh kedua tahun lalu, meskipun dinilai belum sepenuhnya memenuhi target fiskal yang ambisius.
Liza menambahkan bahwa isu MSCI, likuiditas pasar, struktur free float, serta rapuhnya arus dana asing menjadi faktor utama yang menahan penguatan IHSG. Di luar itu, risiko eksternal juga terus membayangi, sehingga investor memilih bersikap defensif.
Analis Menunggu Katalis Lanjutan dari Reformasi Pasar Modal
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong impresif dan melampaui proyeksi sejumlah lembaga. Menurutnya, stimulus pemerintah dan peningkatan investasi menjadi pendorong utama, disertai pemulihan konsumsi rumah tangga yang dipengaruhi faktor musiman.
Meski demikian, Andrey menilai pasar masih membutuhkan katalis lanjutan, baik dari sisi reformasi pasar modal maupun kepastian arus dana asing. Tanpa kejelasan tersebut, respons positif terhadap data makro yang solid diperkirakan tetap terbatas.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,03%. Dari sisi produksi, sektor jasa lainnya tumbuh paling tinggi, sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi kontributor utama pertumbuhan.
