Investor Kakap Mengakumulasi Saham BRIS demi Mendorong Kenaikan ke KBMI 4

Investor institusi berskala besar terpantau terus mengakumulasi saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) dalam beberapa kuartal terakhir. Langkah ini sejalan dengan ambisi BRIS yang kini berstatus BUMN untuk naik kelas ke Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4, sejajar dengan bank-bank jumbo nasional.
Pergerakan saham BRIS mencuri perhatian pasar setelah mencatatkan penguatan signifikan pasca trading halt. Pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026), saham BRIS berada di level Rp2.400 per lembar atau naik 11,11% secara year to date. Kinerja tersebut memperkuat sentimen positif terhadap prospek jangka menengah bank syariah terbesar di Indonesia itu.
Analis Global Memberikan Rekomendasi Beli dengan Target Harga Agresif
Berdasarkan data Bloomberg per 5 Februari 2026, sebanyak 24 analis yang memantau saham BRIS secara konsisten memberikan rekomendasi beli. Konsensus analis menempatkan target harga saham BRIS di level Rp3.254 per saham untuk 12 bulan ke depan, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35,6% dari harga terakhir.
Salah satu investor institusi yang aktif menambah kepemilikan adalah FMR LLC, perusahaan manajemen aset asal Amerika Serikat. Hingga awal 2026, FMR LLC tercatat menggenggam sekitar 654,47 juta saham BRIS, termasuk tambahan lebih dari 516 ribu saham pada awal tahun. Kepemilikan tersebut mengangkat FMR LLC ke posisi empat besar pemegang saham BRIS, tepat di bawah tiga bank BUMN.
UBS Menilai Fundamental BRIS Menguat Berkat Bisnis Payroll dan Emas
Analis UBS Global Research Joshua Tanja dan Ivan Reynaldo Sutheja memasang target harga lebih tinggi di Rp3.800 per saham. Mereka menggunakan model pertumbuhan Gordon dengan asumsi fundamental yang mencerminkan prospek pertumbuhan berkelanjutan BRIS. Pada level target tersebut, saham BRIS diperdagangkan dengan valuasi PBV sekitar 3,0 kali dan PER 18,7 kali.
UBS menilai pertumbuhan kredit BRIS tetap solid dengan kenaikan 13% per November 2025, yang terutama didorong oleh pembiayaan payroll dan cicilan emas. Bisnis emas bahkan mencatat rekor penyaluran bulanan pada Desember 2025 dan mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi.
Manajemen BRIS Menyiapkan Strategi Penguatan Modal demi Naik Kelas
Manajemen BRIS secara terbuka menyatakan aspirasi untuk naik ke KBMI 4. Per kuartal III/2025, modal inti BRIS tercatat sebesar Rp48,64 triliun, sehingga masih membutuhkan tambahan sekitar Rp21 triliun untuk memenuhi ambang batas KBMI 4. Opsi penguatan modal mencakup aksi korporasi, dukungan Danantara, serta pertumbuhan organik.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menegaskan bahwa status persero akan memperkuat kapasitas BSI sebagai pilar utama pengembangan ekosistem keuangan syariah nasional. Ia menekankan bahwa penguatan tata kelola, teknologi, dan sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam mendukung peran strategis perseroan ke depan.
