Regulator Pasar Modal Diminta Meniru Reformasi India di Tengah Ancaman Downgrade MSCI

Ancaman MSCI Mengguncang Pasar Saham Indonesia dan Memicu Tekanan Jual
Ancaman penurunan peringkat pasar saham Indonesia menjadi frontier market oleh MSCI Inc. mengguncang Bursa Efek Indonesia dan memicu aksi jual yang jarang terjadi. Tekanan tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran investor global karena status MSCI menjadi acuan utama alokasi dana internasional, terutama bagi pengelola dana pasif berskala besar.
Mengutip Bloomberg, Kamis (5/2/2026), potensi downgrade ini berisiko menyingkirkan Indonesia dari radar banyak investor asing. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mendesak regulator untuk melakukan reformasi struktural agar pasar saham domestik tetap kompetitif dan relevan.
Investor Global Menyoroti Masalah Free Float dan Likuiditas
Pelaku pasar menilai rendahnya free float dan kedalaman likuiditas menjadi persoalan utama yang melemahkan daya tarik pasar saham Indonesia. John Foo, pendiri Valverde Investment Partners Pte. yang berfokus pada Asia Tenggara, menilai dua isu struktural itu telah lama membebani minat investor asing.
Ia menegaskan bahwa peningkatan porsi saham beredar di publik dapat menjadi kunci perbaikan peringkat pasar. Menurutnya, langkah tersebut terbukti berhasil di India dan layak dijadikan rujukan bagi Indonesia.
Reformasi India Membuktikan Dampak Jangka Panjang
India menjadi contoh nyata keberhasilan reformasi pasar saham. Sejak 2010, otoritas India mewajibkan perusahaan tercatat menjaga kepemilikan saham publik minimum 25 persen. Emiten yang belum memenuhi ketentuan itu diwajibkan meningkatkan free float secara bertahap, sementara perusahaan baru diberi tenggat waktu khusus.
Kebijakan tersebut dibarengi peningkatan transparansi dan pelonggaran akses investasi asing di berbagai sektor strategis. Hasilnya, India mencatat arus masuk investasi asing sekitar US$1,25 triliun dan memperkuat posisinya sebagai tujuan utama pasar negara berkembang.
Indonesia Mulai Menempuh Jalur Serupa dengan Tantangan Besar
Indonesia mulai mengadopsi langkah sejenis dengan mendorong penerapan free float minimum 15 persen yang ditargetkan berlaku pada Maret mendatang. Selain itu, porsi free float untuk IPO direncanakan meningkat menjadi 15–25 persen.
Meski demikian, tantangan muncul dari struktur kepemilikan emiten yang masih terkonsentrasi. Sejumlah pengendali bahkan memilih melakukan buyback saham, yang dinilai menopang harga tetapi justru menekan free float.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut peringatan MSCI sebagai momentum perbaikan pasar. Ia menegaskan pemerintah akan memperkuat tata kelola dan membersihkan praktik manipulasi demi menjaga kredibilitas kebijakan.
