Liputan6.com, Jakarta – Indeks S&P 500 mencatat kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut meski Wall Street melemah pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026. Investor tetap mempertahankan optimisme karena kinerja perusahaan yang solid, tetapi mulai memperhatikan sejumlah indikator yang menunjukkan konsumsi masyarakat Amerika Serikat (AS) melemah.
S&P 500 turun 0,17% atau 13,23 poin ke level 7.785,76 pada akhir perdagangan Jumat. Meski terkoreksi dalam sehari, indeks tersebut tetap mencatat kenaikan 0,4% sepanjang pekan.
Nasdaq Composite juga membukukan penguatan mingguan ketiga berturut-turut sebesar 0,1%. Namun, indeks teknologi tersebut turun 0,28% pada perdagangan Jumat dan berakhir di 26.729,16. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 0,20% ke level 53.732,41 dan mencatat penurunan 0,6% selama sepekan.
Sebelumnya, S&P 500 mencetak rekor baru pada Kamis, 13 Agustus 2026. Indeks tersebut untuk pertama kalinya menembus level 7.800 dan mencapai rekor intraday 7.816,70.
Kinerja Emiten Menopang Penguatan Pasar Saham AS
Kinerja perusahaan menjadi salah satu faktor utama yang menjaga optimisme investor. Lebih dari 90% perusahaan yang masuk dalam indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja kuartal II 2026. Berdasarkan data LSEG, pertumbuhan laba secara agregat mencapai sekitar 52% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, investor mulai menghadapi sinyal pelemahan dari perekonomian AS. Penjualan ritel AS turun 0,6% pada Juli, berlawanan dengan proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan tipis.
Selain itu, survei awal University of Michigan menunjukkan indeks sentimen konsumen turun ke level 51 pada Agustus. Angka tersebut berada di bawah perkiraan ekonom sebesar 54,5.
Pelemahan konsumsi dapat memberikan ruang bagi Federal Reserve atau The Fed untuk mempertahankan suku bunga karena kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan inflasi. Pasar kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar dua pertiga.
Harga Minyak Menguji Prospek S&P 500
Di sisi lain, investor tetap menghadapi risiko dari harga energi. Harga minyak Brent naik 1,7% menjadi US$88,52 per barel pada Jumat di tengah ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Jay Hatfield dari Infrastructure Capital Advisors memperkirakan S&P 500 dapat mencapai 8.100 pada akhir tahun. Proyeksi tersebut bergantung pada kuatnya pertumbuhan laba, harga minyak yang bertahan di atas US$80 per barel, serta keputusan The Fed mempertahankan suku bunga.
Dengan demikian, investor akan terus mencermati keseimbangan antara pertumbuhan laba perusahaan, konsumsi masyarakat, inflasi, harga minyak, dan kebijakan moneter AS untuk menentukan arah S&P 500 berikutnya.
