Anton Budidjaja Borong 10 Juta Saham RELI dan Mulai Bangun Kepemilikan Langsung
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3068179/original/053507800_1583319245-20200304-Dilanda-Corona_-IHSG-Ditutup-Melesat-7.jpg)
Presiden Komisaris PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Anton Budidjaja, melakukan aksi pembelian saham perseroan di pasar sebagai langkah awal membangun kepemilikan langsung. Ia mengeksekusi transaksi tersebut pada 17 Maret 2026 dengan jumlah mencapai 10 juta lembar saham.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 18 Maret 2026, Anton membeli saham RELI di harga Rp 480 per lembar. Dengan demikian, total nilai transaksi ini mencapai sekitar Rp 4,8 miliar.
Sebelum transaksi berlangsung, Anton tercatat belum memiliki saham RELI atau setara 0 persen. Namun setelah pembelian, kepemilikannya meningkat menjadi 10 juta lembar atau setara 0,556 persen dari total saham beredar.
Anton Budidjaja Menegaskan Tujuan Pembelian Saham untuk Investasi Pribadi
Anton Budidjaja menegaskan bahwa transaksi tersebut bertujuan untuk investasi pribadi. Langkah ini sekaligus menunjukkan kepercayaan terhadap prospek kinerja perusahaan ke depan.
Di sisi lain, aksi pembelian saham oleh pejabat internal seperti komisaris sering menarik perhatian pelaku pasar. Investor biasanya menilai langkah ini sebagai sinyal positif karena mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental emiten.
Meski porsinya masih tergolong kecil, kepemilikan ini menempatkan Anton sebagai salah satu pemegang saham RELI. Hal tersebut juga membuka peluang bagi peningkatan eksposur di masa mendatang jika strategi investasi berlanjut.
Pengamat Menilai Pasar Saham Masih Rentan Jelang Libur Lebaran
Sementara itu, pasar saham Indonesia saat ini memasuki fase sensitif menjelang libur panjang Idulfitri. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik yang masih menekan pergerakan pasar.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menjelaskan bahwa ketidakpastian global, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, membuat investor cenderung berhati-hati.
Selain itu, pasar domestik juga menghadapi penyesuaian setelah sorotan terhadap transparansi dan mekanisme perdagangan. Kombinasi faktor tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan bergerak lebih volatil.
Pengamat Mendorong Investor Terapkan Strategi Disiplin dan Hindari Panic Selling
Hendra Wardana mendorong investor untuk menerapkan strategi investasi yang disiplin di tengah kondisi pasar yang bergejolak. Ia menyarankan agar investor tidak melakukan pembelian agresif saat pasar masih berada dalam fase koreksi.
Sebagai alternatif, investor dapat melakukan akumulasi secara bertahap pada saham dengan fundamental kuat, terutama ketika harga berada di area support yang menarik. Selain itu, menjaga porsi kas dalam portofolio juga menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko.
Ia juga mengingatkan agar investor menghindari panic selling. Dalam banyak kasus, tekanan pasar menjelang libur panjang lebih dipicu oleh kebutuhan likuiditas jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental perusahaan.
