Emas Mengungguli Semua Aset dan Menjadi Investasi Paling Cuan Sejak 1990

Riset Goldman Sachs Menunjukkan Pergeseran Peta Investasi Global
Peta investasi global mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Riset terbaru Goldman Sachs per September 2025 mengungkapkan bahwa kinerja antar kelas aset menunjukkan perbedaan tajam dalam tiga periode penting, yakni jangka panjang 1990–2025, pasca krisis finansial 2010–2025, serta siklus pasca pandemi Covid-19 2020–2025. Data ini memberikan gambaran strategis bagi investor dalam menyusun portofolio di tengah dinamika global yang terus berubah.
Emas Mencatatkan Kinerja Terbaik Sejak Pandemi Covid-19
Dalam periode 2020 hingga 2025, emas tampil sebagai aset dengan kinerja paling unggul. Logam mulia ini membukukan imbal hasil tahunan rata-rata sebesar 18,4%, menjadikannya juara dibandingkan kelas aset lainnya. Lonjakan kinerja emas terjadi seiring meningkatnya inflasi global, ketegangan geopolitik, serta dorongan investor untuk mencari aset pelindung nilai di tengah gejolak pasar.
Pada periode yang sama, saham global menempati posisi kedua dengan rata-rata imbal hasil tahunan 12,5%. Meski mencatatkan pertumbuhan positif, kinerja saham masih tertinggal jauh dari emas. Sebaliknya, pasar obligasi justru mengalami tekanan berat akibat kenaikan suku bunga agresif bank sentral dunia, sehingga obligasi pemerintah mencatatkan kinerja negatif sebesar minus 1,1%. Sementara itu, sektor properti hanya tumbuh 1,9% per tahun karena tingginya bunga hipotek yang menekan permintaan.
Pasar Privat Mendominasi Imbal Hasil Jangka Panjang
Jika ditarik dalam jangka panjang selama 1990 hingga 2025, pasar privat muncul sebagai aset dengan kinerja tertinggi. Investasi di perusahaan non-publik ini mencatatkan rata-rata imbal hasil tahunan sebesar 10,5%. Saham global menyusul di posisi berikutnya dengan imbal hasil rata-rata 8,1% per tahun.
Namun, tingginya potensi keuntungan pasar privat diiringi risiko yang besar. Data Goldman Sachs menunjukkan volatilitas pasar privat mencapai lebih dari 21%, tertinggi di antara seluruh kelas aset. Kondisi ini menegaskan bahwa imbal hasil tinggi selalu sejalan dengan tingkat fluktuasi harga yang signifikan.
Tekanan Makroekonomi Membebani Obligasi dan Properti
Riset tersebut juga menyoroti dampak kondisi makroekonomi terhadap aset pendapatan tetap dan properti. Inflasi tinggi serta lonjakan utang negara dalam lima tahun terakhir memberikan tekanan besar pada harga obligasi pemerintah. Meski obligasi korporasi masih mencatatkan imbal hasil positif sebesar 1,3%, angka ini jauh di bawah rata-rata historisnya.
Di sisi lain, properti yang selama ini dikenal sebagai aset jangka panjang relatif stabil kini tertinggal dalam siklus pasca pandemi. Biaya pinjaman yang mahal membuat investor properti menghadapi tantangan besar. Dalam kondisi ini, strategi diversifikasi tetap menjadi kunci utama untuk menghadapi perubahan siklus ekonomi global.
