Investor Asing Lepas Rp 1 Triliun, BBCA dan BUMI Jadi Target Utama

Aliran Dana Asing Keluar Besar dari Pasar Modal Indonesia
Investor asing melepas dana senilai Rp 5,1 triliun pada sesi 1 perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, sementara pembelian asing hanya mencapai Rp 4,1 triliun. Net foreign sell tercatat Rp 1 triliun, menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Tekanan jual ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar dan faktor eksternal yang memengaruhi saham-saham unggulan.
BBCA Mendominasi Tekanan Jual Asing
Saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi yang paling banyak dijual asing dengan net sell Rp 751,1 miliar. Aksi jual ini menekan harga BBCA turun 1,88% ke level Rp 7.850 per saham. Tekanan ini membuat BBCA menjadi saham dengan koreksi terbesar di antara big bank lain pada sesi perdagangan pagi ini.
Bumi Resources Menjadi Sasaran Jual Kedua Asing
Bumi Resources (BUMI) mengalami net foreign sell Rp 269,3 miliar dengan 683,6 juta saham dilepas. Harga BUMI turun mengikuti aksi jual asing dan sentimen pasar, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi sektor pertambangan dan fluktuasi harga komoditas global.
United Tractor Anjlok karena Pencabutan Izin Usaha Pemerintah
United Tractor (UNTR) jatuh hingga 14,93% ke level Rp 27.200, memicu net sell asing Rp 159,7 miliar. Penurunan ini terkait keputusan pemerintah mencabut sejumlah izin usaha kehutanan dan pertambangan akibat banjir di Sumatra, termasuk tambang emas Agincourt yang dimiliki UNTR.
Beberapa Saham Justru Diminati Asing
Meski tekanan jual meluas, sejumlah saham mencatat pembelian asing signifikan. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mencatat net foreign buy Rp 148,2 miliar, diikuti Antam (ANTM) Rp 133,7 miliar dan Vale Indonesia (INCO) Rp 87,9 miliar. Lonjakan pembelian ini menunjukkan investor masih mencari peluang pada saham tertentu meski pasar koreksi.
IHSG Turun, Transaksi dan Sektor Melemah
IHSG tertekan 1,24% atau 113,21 poin ke level 9.021,49 pada akhir sesi 1. Sebanyak 601 saham turun, 152 naik, dan 205 stagnan, dengan nilai transaksi Rp 20,78 triliun dari 35,92 miliar saham. Sektor properti dan konsumer primer mencatat koreksi terbesar, masing-masing turun 3,99% dan 2,7%, mencerminkan tekanan luas di pasar.
