Bursa Asia Melonjak Ikuti Wall Street Setelah Harga Minyak Melemah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3046084/original/091856600_1581323843-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-1.jpg)
Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, setelah pasar merespons sinyal meredanya ketegangan di Timur Tengah. Penurunan harga minyak turut mendorong sentimen positif, sejalan dengan penguatan signifikan yang terjadi di Wall Street pada sesi sebelumnya.
Sejak awal perdagangan, pelaku pasar langsung meningkatkan minat terhadap aset berisiko. Kondisi ini berbalik dari tekanan yang terjadi sehari sebelumnya ketika konflik geopolitik memicu kekhawatiran global.
Investor Mendorong Kenaikan Indeks Utama di Jepang dan Korea Selatan
Indeks Kospi Korea Selatan sempat melonjak lebih dari 3 persen sebelum akhirnya bertahan di kisaran kenaikan 1,5 persen. Sementara itu, indeks Kosdaq ikut menguat sekitar 1,7 persen, menandakan optimisme investor di pasar teknologi.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 1,1 persen dan indeks Topix menguat 1,87 persen. Penguatan ini muncul setelah inflasi inti Jepang terus menurun selama empat bulan berturut-turut hingga Februari. Data menunjukkan indeks harga konsumen berada di level 1,3 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya dan di bawah target bank sentral sebesar 2 persen.
Kondisi tersebut mencerminkan stabilisasi harga pangan serta dampak kebijakan subsidi energi yang membantu meredam tekanan inflasi.
Pasar Asia Lain Mengikuti Tren Positif Seiring Meredanya Kekhawatiran
Selain Jepang dan Korea Selatan, pasar saham di kawasan lain juga bergerak naik. Indeks S&P/ASX 200 Australia mencatat kenaikan 0,32 persen. Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 1,62 persen, sedangkan indeks CSI 300 di China naik 0,52 persen.
Kenaikan serentak ini menunjukkan bahwa sentimen global mulai membaik, terutama setelah pasar sebelumnya diliputi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Pernyataan Donald Trump Menekan Harga Minyak dan Memicu Optimisme Pasar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu perubahan sentimen setelah menyatakan bahwa pemerintahannya menunda rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari. Ia mengklaim telah terjadi komunikasi yang produktif dengan pihak Iran dalam dua hari terakhir.
Namun demikian, pihak Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat. Meski begitu, pasar tetap merespons positif pernyataan tersebut dengan menurunnya harga minyak secara signifikan.
Setelah sebelumnya sempat melonjak tajam, harga minyak mentah Brent turun dari sekitar USD 112 per barel menjadi mendekati USD 99 per barel. Kondisi ini langsung mendorong reli di pasar saham global.
Wall Street Menguat Tajam dan Mengangkat Sentimen Global
Penguatan pasar Asia tidak terlepas dari lonjakan di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 631 poin atau 1,38 persen ke level 46.208,47. S&P 500 menguat 1,15 persen menjadi 6.581,00, sementara Nasdaq Composite naik 1,38 persen ke posisi 21.946,76.
Sebelumnya, kontrak berjangka sempat menunjukkan tekanan akibat lonjakan harga minyak. Namun, setelah pernyataan Trump, indeks berjangka Dow Jones bahkan sempat melesat lebih dari 1.000 poin, menandakan perubahan sentimen yang cepat di kalangan investor.
Di sisi lain, harga emas dan perak justru melemah karena investor mulai kembali ke aset berisiko. Harga emas spot turun sekitar 1,5 persen, sedangkan perak terkoreksi hampir 3 persen.
Pasar Berbalik Arah Setelah Tekanan Tajam pada Awal Pekan
Sehari sebelumnya, bursa Asia mengalami tekanan signifikan akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks utama di Jepang dan Korea Selatan bahkan sempat turun lebih dari 4 persen di awal perdagangan.
Ketegangan meningkat setelah kedua negara saling melontarkan ancaman militer terkait jalur strategis Selat Hormuz. Iran juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi di kawasan jika terjadi serangan dari Amerika Serikat.
Situasi tersebut sempat memicu kekhawatiran global dan membuat investor menghindari aset berisiko. Namun, perubahan arah kebijakan yang disampaikan Washington berhasil meredakan tekanan tersebut dan mengembalikan optimisme pasar dalam waktu singkat.
