Bursa Asia-Pasifik Bergerak Variatif Setelah Gejolak Wall Street dan Konflik Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5504/original/saham-asia-131118b.jpg)
Bursa saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan beragam pada Jumat, 20 Maret 2026, setelah investor global merespons gejolak di Wall Street Amerika Serikat yang dipicu ketegangan di Timur Tengah. Pelaku pasar mengambil langkah hati-hati dengan melepas berbagai aset, mulai dari obligasi pemerintah hingga saham dan logam.
Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,27% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melemah ke level 25.312 dari penutupan sebelumnya di 25.500,58. Di sisi lain, pasar Korea Selatan justru mencatat penguatan, dengan indeks Kospi naik hampir 1% dan Kosdaq bertambah 0,94%. Adapun bursa Jepang tidak beroperasi karena libur nasional.
Serangan Iran ke Fasilitas Gas Qatar Mengguncang Pasar Energi Global
Ketegangan meningkat setelah Iran menyerang fasilitas gas terbesar dunia di Qatar sebagai respons atas serangan Israel ke ladang gas South Pars. Serangan ini langsung mengganggu pasokan energi global dan memicu lonjakan harga.
CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, menyatakan bahwa serangan tersebut memangkas sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar selama tiga hingga lima tahun ke depan. Dampak ini mendorong harga energi naik tajam di pasar internasional.
Harga gas alam AS naik 1,5% ke USD 3,112 per MMBtu. Sementara itu, harga bensin RBOB untuk pengiriman April meningkat hampir 1% ke USD 3,13 dan mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun.
Harga Minyak dan Logam Mulia Berfluktuasi Akibat Ketidakpastian
Harga minyak dunia turut bergejolak. Minyak Brent naik 1,18% ke USD 108,65 per barel setelah sempat menembus USD 119. Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun tipis 0,19% ke USD 96,14.
Di pasar logam mulia, harga emas dan perak sempat merosot masing-masing sekitar 5% dan 10% sebelum akhirnya pulih. Pergerakan ini mencerminkan tingginya ketidakpastian yang memengaruhi keputusan investor.
Pernyataan Pemimpin Dunia Meredakan Kekhawatiran Pasar
Upaya meredakan ketegangan mulai terlihat ketika Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan mengirim pasukan darat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan pihaknya akan menahan diri dari serangan lanjutan terhadap fasilitas energi Iran.
Negara-negara sekutu AS, termasuk Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, dan Jepang, menyatakan kesiapan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan ini memberi sedikit ketenangan bagi pasar global.
Wall Street Melemah dan The Fed Soroti Ketidakpastian Ekonomi
Di Amerika Serikat, Wall Street mencatat penurunan pada sesi sebelumnya. Indeks Dow Jones turun 0,44% ke 46.021,43 poin, S&P 500 melemah 0,27% ke 6.606,49, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,28% ke 22.090,69.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan, namun Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa prospek ekonomi tetap tidak pasti akibat konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah. Pernyataan ini semakin memperkuat sikap hati-hati investor di pasar global.
