Emiten Gencar Lakukan Buyback untuk Menahan Tekanan IHSG

Aksi pembelian kembali saham atau buyback semakin marak dilakukan emiten di tengah tekanan pasar saham. Perusahaan memanfaatkan strategi ini untuk menahan penurunan harga saham sekaligus menjaga kepercayaan investor di tengah kondisi yang belum stabil.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu, 8 April 2026, IHSG naik 4,42% ke level 7.279,21, kemudian kembali menguat 0,39% pada Kamis, 9 April 2026 menjadi 7.307,59. Meski demikian, secara year to date, indeks masih mencatatkan koreksi hingga 15,49%.
Tekanan pasar tersebut dipicu oleh ketidakpastian global, terutama dinamika geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pergerakan harga minyak mentah yang kembali menguat ke kisaran US$97–US$98 per barel turut memengaruhi sentimen pelaku pasar.
Emiten Menggunakan Buyback untuk Meredam Tekanan Harga Saham
Di tengah situasi tersebut, sejumlah emiten mengambil langkah buyback sebagai upaya stabilisasi. Hingga 8 April 2026, tercatat sekitar 25 perusahaan telah mengumumkan rencana maupun realisasi buyback dengan nilai berkisar antara Rp50 miliar hingga Rp2 triliun.
Salah satu perusahaan yang telah menyelesaikan aksi ini adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP). Perseroan merealisasikan pembelian kembali sebanyak 66.249.700 saham atau setara 1,88% dari total saham beredar. Perusahaan mengalokasikan dana sebesar Rp437,87 miliar dengan harga rata-rata Rp6.610 per saham.
Manajemen menyatakan sisa dana buyback akan dialihkan untuk mendukung operasional dan kebijakan distribusi kepada pemegang saham, termasuk pembagian dividen.
Di sisi lain, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) masih mempertimbangkan opsi buyback. Manajemen menilai langkah tersebut belum menjadi prioritas karena pergerakan saham relatif stabil, meski peluang tetap terbuka sesuai kondisi pasar.
Analis Menilai Buyback Bisa Redam Panic Selling
Analis pasar menilai buyback mampu memberikan efek jangka pendek dalam menahan tekanan harga saham. Langkah ini dinilai efektif untuk meredam aksi jual panik sekaligus menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan.
Selain itu, buyback juga berpotensi meningkatkan rasio keuangan seperti earnings per share (EPS) dan return on investment (ROI). Dalam kondisi pasar saat ini, sejumlah saham dinilai berada pada level undervalued sehingga menarik untuk dikoleksi secara bertahap.
Sejumlah saham unggulan direkomendasikan dengan strategi akumulasi, di antaranya saham sektor perbankan dan konglomerasi. Sementara itu, saham energi dan petrokimia juga dinilai masih memiliki potensi kenaikan.
Analis Mengingatkan Risiko Buyback terhadap Ekspansi Perusahaan
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa efektivitas buyback sangat bergantung pada kondisi likuiditas pasar, minat investor, serta fundamental perusahaan. Buyback tidak boleh dilakukan semata-mata untuk mendongkrak harga saham dalam jangka pendek.
Penggunaan dana untuk buyback juga harus mempertimbangkan kebutuhan ekspansi bisnis agar tidak menghambat pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, strategi ini dinilai ideal jika dilakukan menggunakan kelebihan kas tanpa mengganggu rencana investasi perusahaan.
Dalam kondisi tersebut, buyback tidak hanya berfungsi sebagai penopang harga saham, tetapi juga menjadi sinyal positif bagi investor terhadap prospek jangka panjang emiten.
