Juri California Menyatakan Elon Musk Menyesatkan Pemegang Saham Twitter Jelang Akuisisi 2022
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4059231/original/044001300_1655788404-AP22167561965695.jpg)
Juri di California memutuskan sebagian besar berpihak kepada pemegang saham Twitter yang menuding Elon Musk memberikan pernyataan menyesatkan menjelang akuisisi perusahaan pada 2022. Putusan yang diumumkan pada Jumat, 20 Maret 2026 ini menjadi akhir dari gugatan perdata kolektif terkait transaksi senilai USD 44 miliar atau sekitar Rp 746,06 triliun.
Kasus ini mencuat setelah Musk sempat menyatakan akan membeli Twitter pada April 2022, namun kemudian berupaya membatalkan kesepakatan tersebut selama beberapa bulan. Dalam periode tersebut, berbagai pernyataan publik dan unggahan Musk dinilai memicu ketidakpastian di pasar.
Pemegang Saham Menuduh Pernyataan Musk Menekan Harga Saham
Para pemegang saham menilai pernyataan Musk secara sengaja menurunkan harga saham Twitter. Mereka menganggap komentar Musk menciptakan keraguan terhadap kelanjutan akuisisi sehingga mendorong investor menjual saham lebih awal.
Akibatnya, banyak investor kehilangan potensi keuntungan setelah akuisisi akhirnya tetap terlaksana. Juri kemudian memperkirakan kerugian yang dialami pemegang saham mencapai sekitar USD 2,5 miliar atau setara Rp 42,39 triliun, tergantung jumlah klaim yang diajukan.
Meski demikian, juri tidak menemukan adanya skema penipuan terorganisir dalam tindakan Musk. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa sebagian tuduhan tidak terbukti secara hukum.
Elon Musk Menyatakan Akan Mengajukan Banding atas Putusan
Menanggapi putusan tersebut, tim hukum Elon Musk menyatakan akan mengajukan banding. Pengacara dari firma Quinn Emanuel menilai keputusan juri hanya menjadi hambatan sementara dan optimistis hasil akhir akan berpihak pada klien mereka.
Selama persidangan di pengadilan federal San Francisco, Musk memberikan kesaksian langsung untuk membela tindakannya. Ia mengakui pernah membuat unggahan yang kurang tepat, namun menegaskan tidak ada niat memengaruhi pasar secara material.
Tim pembela juga berulang kali menegaskan bahwa klaim penggugat tidak memiliki dasar kuat untuk mengaitkan pernyataan Musk dengan kerugian investor.
Juri Menyoroti Dua Pernyataan Kunci Musk dalam Putusan
Dalam pertimbangannya, juri menyoroti dua pernyataan Musk sebagai faktor utama. Pernyataan pertama muncul pada 13 Mei 2022 ketika Musk menyebut kesepakatan “ditangguhkan sementara” sambil menunggu data akun bot.
Selanjutnya, pada 17 Mei 2022, Musk kembali menyatakan bahwa kesepakatan tidak dapat dilanjutkan sebelum ia memperoleh informasi tambahan terkait jumlah bot di platform tersebut. Kedua pernyataan ini dinilai memengaruhi persepsi pasar secara signifikan.
Di sisi lain, perhatian regulator juga sempat tertuju pada kasus ini. Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) sebelumnya menggugat Musk pada Januari 2025 terkait dugaan keterlambatan pengungkapan kepemilikan saham Twitter yang melebihi 5%.
Dengan rangkaian peristiwa tersebut, kasus ini menjadi salah satu sengketa besar di pasar modal Amerika Serikat yang menyoroti pengaruh pernyataan publik tokoh besar terhadap pergerakan saham.
