OJK Dorong Kenaikan Free Float untuk Perbanyak Saham Indonesia Masuk Indeks Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan lebih banyak saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI) masuk ke indeks global seperti MSCI dan FTSE. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan porsi free float dari sebelumnya 7,5% menjadi 15% guna memperkuat daya tarik pasar modal domestik.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menjelaskan bahwa kebijakan tersebut menjadi langkah awal untuk meningkatkan investability saham Indonesia di mata investor global. Ia menilai semakin besar porsi saham yang beredar di publik, maka semakin tinggi pula likuiditas dan partisipasi investor.
OJK Percepat Penyesuaian Aturan untuk Tingkatkan Likuiditas Pasar
Hasan menegaskan regulator akan bergerak proaktif dalam mendorong lebih banyak emiten masuk indeks global. OJK juga mempelajari metode dan kriteria seleksi yang digunakan MSCI dan FTSE agar saham Indonesia dapat memenuhi standar tersebut.
Saat ini, proses revisi aturan terkait free float tengah berlangsung melalui perubahan Peraturan I-A. OJK bersama BEI sedang menyelesaikan pembahasan internal sebelum mengajukan persetujuan final. Regulasi ini ditargetkan mulai berlaku pada Maret 2026.
Dinamika MSCI Tekan Pasar Saham Indonesia di Awal Tahun
Pada awal tahun 2026, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan setelah MSCI mengumumkan pembekuan rebalancing indeks untuk Indonesia. Keputusan tersebut tidak hanya menahan masuknya saham baru ke indeks global, tetapi juga menyoroti isu tata kelola dan transparansi pasar.
Kondisi ini sempat memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara berulang. Bahkan, Indonesia menghadapi risiko penurunan status menjadi frontier market apabila perbaikan tidak dilakukan.
Sebagai respons, pemerintah dan regulator diberikan waktu hingga Mei 2026 untuk melakukan pembenahan. Penyesuaian free float menjadi salah satu langkah strategis yang diajukan untuk meningkatkan kepercayaan pasar global.
OJK Gunakan Free Float untuk Tingkatkan Daya Saing Bursa Indonesia
Hasan menjelaskan bahwa peningkatan free float memang tidak secara langsung menjadi tuntutan MSCI, namun langkah ini tetap relevan untuk memperbaiki daya saing pasar modal Indonesia. Dengan memperbesar porsi saham yang dapat diperdagangkan publik, Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan pasar lain yang lebih likuid.
Ia menilai kondisi saat ini menunjukkan bahwa free float di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara lain. Oleh karena itu, kebijakan ini diharapkan mampu memperbaiki struktur pasar sekaligus menarik lebih banyak investor global.
Bursa Global Terapkan Standar Free Float Lebih Tinggi Dibanding Indonesia
Sejumlah negara emerging market telah menerapkan standar free float yang lebih tinggi. Bursa Thailand menetapkan batas minimal 15%, sementara Uni Emirat Arab mensyaratkan setidaknya 20%.
Di India, perusahaan tercatat wajib memiliki free float minimal 25%, dan regulator memberikan batas waktu ketat bagi emiten untuk memenuhi ketentuan tersebut. Bursa China juga menetapkan standar 25% atau minimal 10% untuk perusahaan dengan kapitalisasi besar.
Sementara itu, Brasil menetapkan batas minimal 20% atau 15% dengan syarat likuiditas tinggi. Bursa Malaysia bahkan mewajibkan free float sebesar 25%, sedangkan Filipina menetapkan minimal 10%.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan free float menjadi langkah penting agar pasar saham Indonesia mampu sejajar dengan standar global dan meningkatkan peluang masuk ke indeks internasional.
