Analis Prediksi GOTO Raih Laba Perdana pada 2026

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dinilai memiliki peluang besar untuk mencetak laba bersih pertama pada 2026. Optimisme ini muncul seiring perbaikan kinerja keuangan perusahaan sepanjang 2025, meskipun masih mencatatkan rugi bersih.
Analis CGS International (CGSI) Joanne Ong dalam riset tertanggal 13 Maret 2026 mengungkapkan bahwa GOTO berhasil meningkatkan kinerja operasional secara signifikan. Salah satu indikator utamanya terlihat dari lonjakan adjusted EBITDA yang mencapai Rp2 triliun atau tumbuh 420 persen secara tahunan.
GOTO Dorong Pertumbuhan EBITDA dan Efisiensi Operasional
Joanne menjelaskan bahwa capaian EBITDA tersebut melampaui panduan perusahaan yang berada di kisaran Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun. Selain itu, kontribusi dari layanan e-commerce juga menunjukkan performa lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Di sisi lain, segmen teknologi finansial turut mencatat pertumbuhan signifikan. Portofolio kredit GOTO meningkat 69 persen menjadi Rp8,8 triliun, melampaui estimasi analis sebesar Rp8,3 triliun. Kinerja ini memperkuat fondasi bisnis perusahaan menuju profitabilitas.
Memasuki 2026, CGSI memperkirakan adjusted EBITDA GOTO akan naik menjadi Rp3,2 triliun, sejalan dengan target bawah yang telah ditetapkan manajemen. Dengan tren tersebut, Joanne menilai peluang perusahaan untuk membukukan laba bersih semakin terbuka.
GOTO Targetkan Pertumbuhan Transaksi Layanan On-Demand
GOTO juga menargetkan pertumbuhan gross transaction value (GTV) pada segmen on-demand services (ODS) di level high single digit sepanjang 2026. Segmen ini mencakup layanan utama seperti GoRide, GoCar, GoFood, dan GoSend.
Untuk mendorong permintaan, perusahaan menerapkan sistem pooling dan zoning yang bertujuan menekan harga bagi konsumen. Strategi ini diharapkan mampu memperluas penetrasi pasar massal sekaligus meningkatkan volume transaksi.
Joanne memperkirakan GTV segmen ODS akan tumbuh 7,9 persen secara tahunan menjadi Rp71,8 triliun pada 2026. Meski demikian, proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dari estimasi sebelumnya karena mempertimbangkan potensi penundaan sejumlah inisiatif baru.
GOTO Perkuat Bisnis Fintech dan PayLater untuk Tingkatkan Profitabilitas
Selain layanan transportasi dan pengantaran, GOTO juga memperkuat lini fintech sebagai pendorong pertumbuhan. Platform PayLater diproyeksikan mencatat peningkatan portofolio kredit sebesar 43 persen menjadi Rp11,9 triliun pada 2026.
Pertumbuhan ini didukung pemanfaatan data transaksi pengguna yang memungkinkan penilaian kredit lebih akurat. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menyalurkan pembiayaan yang lebih berkualitas dan menguntungkan.
Secara keseluruhan, CGSI memproyeksikan GTV fintech GOTO mencapai Rp794,4 triliun atau naik 20,4 persen secara tahunan. Efisiensi biaya promosi dan peningkatan leverage operasional juga diyakini akan memperkuat profitabilitas perusahaan.
GOTO Hadapi Dinamika Permintaan dan Ketersediaan Mitra Driver
Di tengah proyeksi positif tersebut, GOTO juga menghadapi tantangan operasional, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Perusahaan mencatat lonjakan permintaan layanan pada jam sibuk, khususnya di kawasan bisnis Jakarta.
Head of Driver Operations Gojek Bambang Adi Wirawan menyatakan bahwa pola pemesanan berubah dengan jam sibuk yang dimulai lebih awal, yakni sejak pukul 15.30 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.
Namun, pada saat yang sama, sebagian mitra pengemudi memilih pulang kampung sehingga ketersediaan driver berkurang. Kondisi ini sempat memicu keluhan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan layanan ojek online.
Dengan berbagai peluang dan tantangan tersebut, kinerja GOTO pada 2026 akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan efisiensi operasional.
