Pasar Saham Indonesia Bergejolak Jelang Lebaran Akibat Tekanan Global dan Domestik

Pasar saham Indonesia menunjukkan tekanan yang lebih dalam dibandingkan bursa Asia lainnya menjelang libur panjang Lebaran. Pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 114,9 poin atau 1,6% ke level 7.022,2 setelah sempat menyentuh posisi terendah harian di 6.917.
Tekanan ini tidak muncul secara tunggal, melainkan berasal dari kombinasi berbagai faktor global dan domestik yang terjadi hampir bersamaan. Kondisi tersebut membuat sentimen pasar menjadi lebih rapuh dan meningkatkan volatilitas perdagangan.
Analis Mengaitkan Gejolak Pasar dengan Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Energi
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga energi global sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar. Lonjakan harga minyak berpotensi mencapai kisaran US$120 hingga US$150 per barel, bahkan dalam skenario ekstrem bisa menembus US$200.
Kondisi ini mendorong risiko inflasi global meningkat dan berpotensi menunda penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia. Sejalan dengan itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini juga menurun, dari sebelumnya diperkirakan dua kali menjadi hanya satu kali sebesar 25 basis poin.
Kenaikan harga energi turut mendorong imbal hasil obligasi di Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini membuat aset di negara maju menjadi lebih menarik, sehingga investor global mulai mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor Global Menunggu Sinyal The Fed dan Mengalihkan Dana ke Aset Aman
Di sisi lain, pelaku pasar global memilih bersikap hati-hati sambil menunggu keputusan suku bunga The Fed. Meskipun konsensus memperkirakan suku bunga tetap, perhatian utama tertuju pada arah kebijakan ke depan yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed, Jerome Powell.
Ketidakpastian ini mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Dalam situasi tersebut, investor global cenderung memindahkan dana ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS.
Data menunjukkan arus keluar dana asing dari pasar reguler BEI sepanjang tahun berjalan mencapai Rp22,3 triliun. Selain itu, sebagian investor mulai melirik pasar lain seperti China yang dinilai lebih stabil dalam menghadapi gejolak energi global.
Indonesia Menghadapi Kerentanan Energi di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Tekanan pasar juga diperparah oleh kondisi domestik, khususnya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Kenaikan harga minyak global langsung berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.
Pada 4 Maret 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut cadangan bahan bakar minyak nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari. Pemerintah memang menahan harga BBM hingga Lebaran, namun ketidakpastian muncul untuk periode setelahnya.
Jika harga minyak tetap tinggi, pemerintah harus memilih antara menaikkan harga BBM, menambah subsidi energi, atau menanggung beban fiskal yang lebih besar. Dilema ini turut menambah tekanan terhadap sentimen pasar saham domestik.
Kombinasi Risiko Membuat IHSG Lebih Rentan Dibanding Bursa Regional
Gabungan faktor global dan domestik membuat IHSG terlihat lebih rapuh dibandingkan bursa regional lainnya. Tekanan dari geopolitik, kebijakan moneter global, hingga kondisi energi dalam negeri memperbesar risiko volatilitas.
Akibatnya, investor menjadi lebih selektif dan cenderung menahan posisi menjelang libur panjang. Situasi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar dalam menghadapi ketidakpastian yang masih berlanjut.
