Rilis Data PDB 5,11 Persen Gagal Mengangkat IHSG yang Ditutup Melemah ke 8.103

Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan di zona merah pada Kamis (5/2/2026) meskipun data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan kinerja solid. IHSG ditutup melemah 0,53% atau 42,83 poin ke level 8.103,87, mencerminkan sikap hati-hati investor yang belum merespons agresif rilis data makroekonomi tersebut.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG membuka perdagangan di level 8.154,60 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 8.214,45 sebelum tekanan jual kembali meningkat hingga penutupan sesi. Sepanjang perdagangan, tercatat 299 saham menguat, 349 saham melemah, dan 172 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat berada di level Rp14.674 triliun.
Saham Big Caps Tetap Menguat di Tengah Tekanan Pasar
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru mencatatkan penguatan signifikan. Saham PT Unilever Indonesia Tbk. memimpin penguatan dengan lonjakan 7,80% ke level Rp2.210 per saham. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya minat beli selektif pada saham defensif dengan fundamental kuat.
Penguatan juga dialami oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk. yang naik 5,84% ke Rp7.250 per saham, disusul PT Astra International Tbk. yang tumbuh 4,12% ke posisi Rp5.000 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menguat 1% ke level Rp5.050 dan PT Barito Renewables Energy Tbk. naik tipis 0,61% ke Rp8.250 per saham.
Saham Tertentu Terkoreksi dan Top Gainers Bergerak Ekstrem
Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah saham. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. terkoreksi 2,05% ke level Rp88.000, sedangkan PT Amman Mineral Internasional Tbk. melemah 1,67% ke posisi Rp7.350 per saham. Pergerakan tersebut mencerminkan rotasi portofolio investor di tengah ketidakpastian pasar.
Sementara itu, saham top gainers dihuni oleh PT Citatah Tbk. yang melonjak 34,48% ke Rp117 dan PT Nusantara Almazia Tbk. yang naik 34,31% ke Rp184 per saham. Sebaliknya, saham PT Sanurhasta Mina Tbk. mencatatkan penurunan terdalam dengan koreksi 14,86% ke Rp252, diikuti PT Martina Berto Tbk. yang turun 14,66% ke Rp163 per saham.
Pelaku Pasar Menilai Data PDB Sudah Tercermin di Harga Saham
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11% sepanjang 2025 mencerminkan fondasi makroekonomi yang solid. Ia menekankan bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, dan stabilitas kebijakan menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut.
Namun, pasar saham dinilai belum merespons positif karena sebagian besar data ekonomi telah lebih dulu diperhitungkan oleh pelaku pasar. Selain itu, investor masih mencermati isu struktural pasar modal serta risiko global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG ke depan.
