Indeks Saham BUMN Mengungguli IHSG Didorong Efek Danantara dan Reli Komoditas

Kinerja saham BUMN melampaui IHSG pada awal 2026
Saham-saham Badan Usaha Milik Negara menunjukkan performa lebih solid dibandingkan pasar secara keseluruhan pada awal 2026. Penguatan ini tercermin dari Indeks IDX BUMN 20 yang berhasil melampaui laju Indeks Harga Saham Gabungan seiring meningkatnya minat investor terhadap emiten pelat merah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IDX BUMN 20 menguat 5,79% secara year to date hingga Senin (19/1/2026). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan IHSG yang tumbuh 5,63% pada periode yang sama. Kondisi ini menandai awal tahun yang positif bagi saham-saham milik negara di tengah dinamika pasar global.
Reli komoditas dan energi mendorong penguatan indeks pelat merah
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyampaikan bahwa reli saham sektor komoditas dan energi menjadi motor utama penguatan indeks BUMN. Emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. mencatat kinerja kuat sejak akhir tahun lalu, seiring membaiknya harga komoditas dan prospek permintaan.
Di sisi lain, saham perbankan BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. tetap menjadi perhatian investor. Meski pergerakannya cenderung defensif dibandingkan saham komoditas, sektor perbankan dinilai memberikan stabilitas bagi indeks.
Agenda restrukturisasi Danantara memperkuat sentimen pasar
Sentimen kebijakan turut memperkuat minat terhadap saham BUMN, terutama rencana restrukturisasi besar melalui Danantara Indonesia. Investor memandang agenda ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperbaiki struktur keuangan emiten negara.
Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga acuan turut mendukung sentimen positif karena berpotensi menurunkan biaya modal. Abida menilai kombinasi kebijakan tersebut membuat prospek kinerja BUMN hingga akhir semester I/2026 masih relatif positif, khususnya pada sektor perbankan, energi, dan telekomunikasi.
Risiko makro dan eksekusi kebijakan tetap membayangi pasar
Meski tren penguatan masih terjaga, investor tetap bersikap selektif. Risiko volatilitas nilai tukar rupiah, potensi tekanan kebijakan pemerintah, serta dinamika arus modal asing global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Abida juga menyoroti tantangan kualitas aset dan pertumbuhan kredit pada sejumlah bank BUMN. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar menahan diri dan menunggu realisasi nyata dari agenda restrukturisasi sebelum memberikan penilaian ulang yang lebih agresif terhadap saham pelat merah.
