Investor Asing Mendorong Rotasi Saham Big Caps ke LQ45

Investor Asing Membukukan Inflow Besar dalam Sepekan
Investor asing terus memperkuat posisinya di pasar saham domestik dengan mencatatkan pembelian bersih senilai Rp4,6 triliun dalam sepekan terakhir. Hingga pertengahan Januari 2026, total net buy asing sejak awal tahun telah mencapai Rp6,35 triliun. Arus dana ini muncul di tengah pergerakan pasar yang volatil, sekaligus membuka peluang rotasi portofolio ke saham-saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi.
Saham Big Caps LQ45 Menjadi Sasaran Utama Aksi Beli
Aliran modal asing tersebut terkonsentrasi pada saham-saham big caps yang tergabung dalam indeks LQ45. Saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatat net foreign buy sebesar Rp602,3 miliar. Selanjutnya, investor asing juga mengoleksi saham PT Astra International Tbk. (ASII) senilai Rp564,6 miliar dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) sebesar Rp477 miliar. Pola ini menegaskan preferensi asing terhadap emiten dengan fundamental kuat dan peran strategis di sektor masing-masing.
Analis Menilai Inflow Menandai Reposisi Investor
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai derasnya inflow asing mencerminkan langkah reposisi, bukan sinyal keluarnya investor dari pasar. Menurutnya, kondisi ini terlihat jelas ketika Indeks Harga Saham Gabungan bergerak fluktuatif, tetapi indeks LQ45 justru mampu menguat secara konsisten. Situasi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.
IHSG Volatil, Indeks LQ45 Menunjukkan Ketahanan
Sepanjang pekan lalu, IHSG bergerak dalam rentang 8.715 hingga 9.100 dan tetap menguat 1,68% dibandingkan pekan sebelumnya. Bahkan, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi dan menembus level 9.000. Di sisi lain, indeks LQ45 mencatat kenaikan 5,05% secara year to date, melampaui penguatan IHSG yang berada di level 4,96%. Kinerja ini memperlihatkan peran dominan saham big caps dalam menopang pasar.
Saham Fundamental Diproyeksikan Menjadi Motor Pasar
Ekky menjelaskan bahwa saham-saham big caps umumnya didominasi emiten konglomerasi seperti PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Gudang Garam Tbk., sehingga ketergantungan pada grup besar merupakan karakter struktural pasar. Ia menilai mekanisme pasar perlu dibiarkan berjalan alami. Ketika saham-saham fundamental belum bergerak optimal, kondisi tersebut justru membuka ruang akumulasi. Dalam jangka panjang, harga saham diyakini akan mencerminkan nilai intrinsiknya seiring berlanjutnya momentum rotasi.
