Konflik Iran Mengguncang Aktivitas IPO di Bursa Saham India
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4822442/original/096602100_1714908432-fotor-ai-20240505174744.jpg)
Gejolak global akibat konflik Iran mulai mengguncang aktivitas penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa saham India. Kondisi ini terjadi di salah satu pasar IPO tersibuk di dunia yang sebelumnya mencatat pertumbuhan signifikan.
Tekanan pasar semakin terlihat setelah perusahaan pembayaran digital PhonePe memutuskan menunda rencana IPO pada awal pekan. Keputusan tersebut mencerminkan melemahnya minat investor di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Pelemahan Pasar dan Arus Dana Asing Memperparah Tekanan IPO
Indeks acuan saham India tercatat turun lebih dari 12% sejak Januari 2026. Sebagian besar tekanan muncul dalam beberapa pekan terakhir seiring dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dan perdagangan global.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupee yang melemah terhadap dolar AS turut memperburuk kondisi pasar. Investor institusional asing bahkan tercatat melakukan aksi jual saham lebih dari USD 8 miliar sepanjang Maret 2026.
Kondisi tersebut mengurangi likuiditas di pasar primer dan membuat perusahaan kesulitan mendapatkan valuasi premium dalam IPO. Para analis menilai situasi ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan yang ingin melantai di bursa.
Sejumlah Perusahaan Besar Menunda Rencana IPO
Tekanan pasar memaksa sejumlah perusahaan teknologi dan konsumen untuk menunda rencana IPO mereka. Selain PhonePe, perusahaan seperti Zepto, Flipkart, dan Oyo memilih menunggu kondisi pasar membaik sebelum melanjutkan proses pencatatan saham.
Zepto sebelumnya mengajukan IPO secara rahasia pada Desember dan menargetkan penghimpunan dana lebih dari USD 1,2 miliar. Sementara itu, Oyo juga mengambil langkah serupa dengan dukungan investor besar.
Para pelaku industri menilai penundaan ini dipicu oleh ketidaksesuaian valuasi antara perusahaan dan investor. Akibatnya, banyak perusahaan memilih bersikap hati-hati agar tidak merugi saat melantai di bursa.
IPO Skala Besar Menunggu Momentum Pasar yang Lebih Kondusif
Beberapa rencana IPO besar, termasuk oleh NSE, Reliance Jio, dan SBI Mutual Fund, diperkirakan tetap berjalan setelah kondisi pasar membaik. Namun, para analis menekankan pentingnya penentuan waktu dan harga yang tepat.
Reliance Jio disebut tengah menyiapkan IPO pada paruh pertama 2026 dan masih dalam tahap penunjukan bank investasi. Sementara itu, Bursa Efek Nasional India juga telah menunjuk sejumlah bankir untuk mendukung rencana pencatatan saham.
Meski demikian, para ahli menilai aktivitas IPO sangat bergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan. Selama volatilitas tinggi masih berlangsung, minat investor diperkirakan tetap terbatas.
Investor Ritel dan Institusi Mengurangi Partisipasi di Pasar IPO
Penurunan minat investor tidak hanya terjadi pada investor asing, tetapi juga pada investor ritel dan individu dengan kekayaan tinggi. Kinerja IPO yang kurang memuaskan dalam beberapa waktu terakhir membuat mereka cenderung menahan diri.
Data menunjukkan sebagian besar IPO yang tercatat sejak awal tahun diperdagangkan di bawah harga penawaran. Kondisi ini menurunkan kepercayaan investor terhadap potensi keuntungan jangka pendek.
Selain itu, nilai investasi investor institusional asing di IPO juga menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memberikan ruang bagi investor domestik untuk lebih dominan dalam menentukan harga IPO.
Dalam situasi ini, investor domestik cenderung bersikap lebih selektif dan menuntut valuasi yang lebih kompetitif. Akibatnya, perusahaan harus menyesuaikan strategi agar tetap menarik di tengah pasar yang penuh tekanan.
