Sariguna Primatirta Catat Penurunan Laba 17,91 Persen Sepanjang 2025

PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO) membukukan penurunan laba bersih sepanjang 2025 meskipun perusahaan tetap mencatat pertumbuhan pendapatan. Emiten milik Hermanto Tanoko ini menghadapi tekanan biaya yang meningkat di tengah persaingan industri air minum dalam kemasan yang semakin ketat.
Berdasarkan laporan keuangan, CLEO mencatat penjualan bersih sebesar Rp2,82 triliun pada 2025. Angka tersebut meningkat 4,83 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp2,69 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan permintaan pasar yang tetap terjaga dan sejalan dengan perkembangan industri AMDK nasional.
CLEO Dorong Penjualan Melalui Segmen Botol dan Jaringan Distribusi
Perusahaan mengandalkan segmen botol sebagai kontributor utama pendapatan dengan nilai mencapai Rp1,57 triliun. Sementara itu, segmen non-botol menyumbang Rp1,20 triliun terhadap total penjualan. Kedua segmen tersebut masing-masing mencatat pertumbuhan sekitar 5 persen dan 3 persen secara tahunan.
Direktur Utama Sariguna Primatirta, Melisa Patricia, menegaskan bahwa kinerja penjualan tetap menunjukkan ketahanan di tengah kompetisi industri. Ia menyebut perusahaan terus menjaga performa melalui diversifikasi produk dan penguatan jaringan distribusi yang dekat dengan konsumen.
Selain itu, CLEO mengoperasikan 32 pabrik di berbagai wilayah Indonesia hingga akhir 2025. Perusahaan juga menggandeng lebih dari 10.000 mitra distribusi guna memastikan ketersediaan produk di pasar. Inovasi produk turut menjadi pendorong, termasuk peluncuran kemasan praktis dan desain ramah lingkungan.
Peningkatan Beban Produksi Tekan Laba Bersih Perusahaan
Di sisi lain, perusahaan menghadapi kenaikan beban pokok penjualan yang mencapai Rp1,24 triliun pada 2025, meningkat dari Rp1,12 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan biaya ini menekan profitabilitas meskipun laba bruto masih naik tipis menjadi Rp1,58 triliun dari Rp1,57 triliun.
Setelah memperhitungkan berbagai beban operasional dan pajak, CLEO mencatat laba bersih sebesar Rp381,82 miliar. Realisasi tersebut turun 17,91 persen dibandingkan capaian 2024 yang mencapai Rp465,15 miliar.
CLEO Perkuat Ekspansi Pabrik untuk Dorong Pertumbuhan 2026
Di tengah tekanan laba, CLEO tetap memperkuat struktur keuangan dengan mencatat total aset sebesar Rp3,01 triliun per Desember 2025, meningkat dari Rp2,66 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, liabilitas turun menjadi Rp706,66 miliar, dan ekuitas meningkat menjadi Rp2,31 triliun.
Selanjutnya, perusahaan menyiapkan strategi ekspansi untuk menjaga pertumbuhan. CLEO berencana mengoperasikan pabrik baru di Palu pada kuartal II/2026 serta menambah dua fasilitas produksi di Pekanbaru dan Pontianak pada paruh kedua tahun ini.
Manajemen juga optimistis kinerja penjualan pada kuartal I/2026 akan tumbuh dua digit. Momentum Ramadan dan Idulfitri dinilai mampu mendorong konsumsi masyarakat, terutama untuk produk air minum dalam kemasan.
Melisa menegaskan bahwa kedekatan lokasi produksi dengan konsumen menjadi kunci efisiensi distribusi sekaligus faktor penting dalam menjaga pertumbuhan penjualan ke depan.
