Lo Kheng Hong Tambah Kepemilikan Saham DILD hingga 707 Juta Lembar per April 2026

Investor pasar modal Lo Kheng Hong terus meningkatkan kepemilikan saham PT Intiland Development Tbk. (DILD) hingga awal April 2026. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 1 April 2026, ia menggenggam 707.053.000 lembar saham atau setara 6,82 persen dari total saham beredar.
Kepemilikan tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan posisi akhir 2025. Pada 31 Desember 2025, Lo Kheng Hong tercatat memiliki 695.069.100 lembar saham atau sekitar 6,7 persen. Dengan demikian, ia menambah sekitar 11,98 juta lembar saham sepanjang periode tersebut.
Lo Kheng Hong Manfaatkan Harga Saham DILD yang Turun
Lo Kheng Hong secara aktif menambah porsi saham DILD seiring pelemahan harga di pasar. Ia menyebut keputusan pembelian tersebut didorong oleh kondisi harga saham yang sedang turun.
Hingga penutupan perdagangan Kamis, 2 April 2026, saham DILD berada di level Rp123 per lembar. Posisi ini mencerminkan penurunan sekitar 12,77 persen sejak awal tahun berjalan.
Ia menilai valuasi saham tersebut berada pada level diskon, sehingga membuka peluang akumulasi. Strategi ini sejalan dengan pendekatannya yang kerap memanfaatkan momentum koreksi harga.
Lo Kheng Hong Bangun Keyakinan Investasi dari Fundamental Intiland
Lo Kheng Hong mulai masuk sebagai pemegang saham besar DILD sejak 10 Agustus 2022. Pada saat itu, ia membeli sekitar 453,1 juta lembar saham dengan harga rata-rata Rp147 per lembar atau setara Rp66,6 miliar.
Seiring waktu, ia terus meningkatkan kepemilikannya setelah melakukan analisis terhadap fundamental perusahaan. Ia menaruh perhatian pada kualitas manajemen serta nilai aset yang dimiliki Intiland.
Dalam pemaparannya, ia menilai jajaran direksi dan komisaris Intiland memiliki profesionalisme dan integritas yang kuat. Selain itu, ia juga mencermati nilai proyek yang dikembangkan perusahaan yang mencapai sekitar Rp20 triliun.
Lo Kheng Hong Bandingkan Nilai Aset dan Kapitalisasi Pasar DILD
Lo Kheng Hong membandingkan nilai aset perusahaan dengan kapitalisasi pasar untuk menilai potensi investasi. Ia mencatat kapitalisasi pasar Intiland saat itu hanya sekitar Rp1,5 triliun.
Dengan mempertimbangkan nilai aset yang besar dan dikurangi utang sekitar Rp3 triliun, ia melihat masih terdapat nilai signifikan yang belum tercermin pada harga saham. Perhitungan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa saham DILD berada dalam kondisi undervalued.
Berdasarkan analisis tersebut, ia kemudian mendalami laporan keuangan serta portofolio properti perusahaan sebelum memutuskan menambah investasi secara bertahap.
