Analis Menilai Emiten Rokok Hadapi 2026 dengan Peluang Terbatas

Industri rokok memasuki 2026 dengan tantangan yang belum sepenuhnya mereda, meski sejumlah indikator menunjukkan adanya perbaikan. Sepanjang 2025, mayoritas emiten rokok mencatat penurunan penjualan seiring turunnya produksi nasional menjadi 307,85 miliar batang, level terendah sejak 2019.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan tetap berupaya menjaga kinerja melalui berbagai strategi. PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) misalnya, berhasil meningkatkan laba bersih meski penjualan turun, berkat langkah efisiensi yang agresif. Sementara itu, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) mengalami tekanan pada penjualan dan laba, namun mulai menunjukkan pertumbuhan pada segmen produk bebas asap.
Analis Memproyeksikan Perbaikan Kinerja Emiten Rokok pada 2026
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, melihat 2026 sebagai fase pemulihan terbatas bagi sektor rokok. Ia menyebut keputusan pemerintah yang tidak menaikkan cukai dan harga jual eceran memberi ruang bagi produsen untuk mengelola biaya lebih baik.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kondisi industri secara keseluruhan belum cukup kuat untuk mendorong sektor ini menjadi primadona pasar. Menurutnya, perbaikan lebih banyak berasal dari sisi efisiensi, bukan lonjakan permintaan.
Emiten Rokok Menunjukkan Strategi Berbeda dalam Menghadapi Tekanan Pasar
Ekky menilai HMSP memiliki posisi strategis karena mengembangkan produk bebas asap yang berpotensi tumbuh dalam jangka menengah. Di sisi lain, PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) justru tampil menonjol karena mampu menangkap peluang di segmen rokok ekonomis, sehingga mencatat pertumbuhan penjualan dan laba.
Sementara itu, GGRM menunjukkan ketahanan melalui efisiensi biaya yang mampu menjaga profitabilitas. Berbeda dengan ketiga emiten tersebut, PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) masih menghadapi tekanan kinerja, yang mencerminkan bahwa segmen pasar bawah tidak selalu menjamin pertumbuhan.
Pasar Mengarahkan Investor Memilih Saham Rokok Secara Selektif
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, melihat investor akan semakin selektif dalam memilih saham rokok. Ia menilai pasar cenderung mencari emiten dengan kombinasi dividen menarik, neraca kuat, serta kemampuan menjalankan efisiensi.
Menurutnya, GGRM unggul dari sisi efisiensi, sementara HMSP memiliki peluang dari pengembangan produk alternatif. Adapun WIIM dinilai mampu memanfaatkan pergeseran konsumsi ke produk yang lebih terjangkau.
Industri Rokok Menghadapi Tantangan Daya Beli dan Perubahan Konsumen
Para analis sepakat bahwa tantangan utama industri rokok tetap berasal dari daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Selain itu, tren penurunan volume dan pergeseran konsumsi ke produk lebih murah turut menekan kinerja industri.
Di sisi lain, tekanan regulasi dan perubahan gaya hidup juga mulai memengaruhi pola konsumsi jangka panjang. Kondisi ini membuat industri rokok bergerak dari model berbasis volume menuju strategi berbasis margin.
Emiten Rokok Mengandalkan Efisiensi dan Inovasi untuk Bertahan
Analis dari Indonesia Strategic and Economics Institution, Ronny P. Sasmita, menilai 2026 menjadi fase stabilisasi bagi industri rokok. Ia melihat perusahaan kini lebih fokus menjaga margin dibanding mengejar ekspansi agresif.
Menurutnya, efisiensi tetap menjadi kunci dalam jangka pendek, namun inovasi produk akan menentukan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Ia menambahkan, emiten yang mampu beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Dengan demikian, sektor rokok pada 2026 cenderung berperan sebagai pilihan defensif bagi investor, bukan sebagai penggerak utama pertumbuhan pasar saham.
