Analis Menilai IHSG Berpeluang Kembali Menembus Level 9.000 pada Akhir 2026

JAKARTA — Pasar saham Indonesia memulai triwulan pertama 2026 dengan dinamika yang cukup tajam. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatatkan rekor tertinggi baru. Namun di sisi lain, indeks juga mengalami tekanan signifikan akibat berbagai sentimen global dan domestik.
Tekanan tersebut muncul dari sejumlah faktor eksternal, termasuk penilaian dari lembaga keuangan global seperti MSCI Inc., Moody’s, dan Fitch Ratings. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran turut memperburuk sentimen pasar. Kombinasi faktor tersebut membuat IHSG turun sekitar 14,54 persen dibandingkan posisi penutupan pada akhir 2025.
Situasi tersebut membuat upaya IHSG untuk kembali menembus level 9.000 menjadi tantangan besar bagi pasar modal Indonesia sepanjang tahun ini.
Analis Menyebut Stabilitas Geopolitik dan Kebijakan Fiskal Menjadi Kunci Penguatan IHSG
Chief Operating Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari menilai peluang IHSG untuk kembali menguat hingga level 9.000 pada akhir 2026 masih terbuka. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada sejumlah faktor penting yang memengaruhi kepercayaan investor.
Menurutnya, pasar membutuhkan kondisi geopolitik yang lebih stabil agar sentimen global kembali kondusif. Selain itu, kepercayaan dari lembaga indeks global seperti MSCI Inc. juga berperan besar dalam mendorong arus investasi ke pasar modal Indonesia.
Di sisi lain, arah kebijakan fiskal pemerintah juga menjadi faktor penting. Stabilitas kebijakan anggaran negara dinilai mampu memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Meski demikian, Putu menilai pergerakan IHSG pada semester pertama 2026 masih menghadapi banyak ketidakpastian. Selain tekanan geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan defisit fiskal nasional yang dapat memengaruhi sentimen investor global.
Ia memperkirakan peluang penguatan pasar saham akan lebih terlihat pada paruh kedua tahun ini jika kebijakan fiskal pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kinerja Emiten dan Suku Bunga Rendah Memberikan Dukungan terhadap Pasar Saham
Di tengah tekanan yang terjadi, sejumlah faktor domestik tetap memberikan dukungan bagi pasar modal Indonesia. Salah satu faktor tersebut berasal dari kinerja keuangan emiten yang relatif positif sepanjang tahun lalu.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa sektor bisnis riil masih mencatat pertumbuhan yang cukup solid. Kondisi ini memberikan dasar fundamental yang kuat bagi pasar saham untuk pulih ketika sentimen eksternal mulai mereda.
Selain itu, posisi suku bunga acuan yang masih berada pada level rendah juga menjadi katalis positif bagi pasar modal. Sejumlah analis bahkan memprediksi kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan yang dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan.
Putu menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah juga memegang peranan penting dalam menjaga kepercayaan investor. Ia menilai investor tidak hanya memperhatikan level nilai tukar, tetapi juga mencermati tingkat volatilitas rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Jika pemerintah mampu menjaga stabilitas tersebut, peluang IHSG untuk kembali mendekati level 9.000 pada akhir tahun tetap terbuka.
Investor Asing Menunggu Kepastian Kebijakan Sebelum Kembali Masuk ke Pasar
Putu juga menilai valuasi saham di pasar modal Indonesia saat ini relatif lebih murah dibandingkan dengan pasar regional. Kondisi tersebut sebenarnya dapat menarik minat investor asing untuk kembali menambah investasi di Indonesia.
Namun demikian, investor global masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dari pemerintah. Ketidakpastian kebijakan sebelumnya membuat sebagian investor menahan diri untuk kembali masuk ke pasar domestik.
Sejalan dengan itu, Head of Investment Bareksa Christian Halim menilai berbagai reformasi pasar yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar.
Ia menilai kebijakan seperti peningkatan keterbukaan data investor dengan kepemilikan di atas 1 persen serta penyesuaian batas minimum free float merupakan langkah yang dapat meningkatkan transparansi pasar.
Meski begitu, Christian memperkirakan penguatan pasar saham pada semester pertama 2026 masih menghadapi tantangan berat. Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, terutama konflik di Iran, berpotensi mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan tekanan inflasi.
Kondisi tersebut membuat sejumlah analis mulai merevisi proyeksi IHSG yang sebelumnya diperkirakan mampu mencapai kisaran 9.000 hingga 10.000 pada akhir tahun.
