Analis Memproyeksikan IHSG Bergerak Melemah pada Pekan Kedua April 2026

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada pekan mendatang setelah mencatat pelemahan pada akhir pekan sebelumnya. Indeks ditutup turun 2,19% ke level 7.026,78 pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, sekaligus melanjutkan tren koreksi mingguan sebesar 0,99%.
Analis memandang kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang belum stabil. Oleh karena itu, IHSG diproyeksikan bergerak dalam rentang 6.825 hingga 7.445 pada pekan berikutnya, dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.
Ketegangan Geopolitik Mendorong Tekanan Global terhadap Pasar Saham
Tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari dinamika global, terutama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kelanjutan operasi militer memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Akibatnya, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Aksi Jual Asing dan Koreksi Saham Big Caps Menekan IHSG
Di dalam negeri, tekanan terhadap IHSG semakin kuat seiring derasnya arus keluar dana asing. Sepanjang pekan, investor asing mencatatkan jual bersih sekitar Rp2,94 triliun.
Selain itu, saham-saham berkapitalisasi besar juga mengalami tekanan akibat aksi ambil untung di tengah ketidakpastian global. Koreksi pada sejumlah saham unggulan turut memperdalam pelemahan indeks secara keseluruhan.
Data Ekonomi Domestik Menunjukkan Perlambatan Aktivitas
Sementara itu, indikator makroekonomi domestik memperlihatkan tanda-tanda perlambatan. Inflasi tahunan Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48% dan masih berada dalam kisaran target, namun tidak cukup kuat untuk mendorong sentimen positif.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur yang tercermin dari PMI turun ke level 50,1 atau mendekati stagnasi. Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan dari sisi permintaan maupun biaya produksi.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi US$1,28 miliar pada Februari 2026 akibat perlambatan ekspor dan peningkatan impor. Kombinasi faktor ini turut membebani pergerakan pasar saham domestik.
Pasar Global dan Regional Membentuk Sentimen Campuran bagi IHSG
Meski pasar saham Amerika Serikat sempat menguat pada awal April 2026, sentimen positif tersebut tidak sepenuhnya menular ke kawasan Asia. Bursa Asia Pasifik cenderung bergerak variatif dengan tekanan yang masih dominan.
Kenaikan harga minyak memberikan beban tambahan bagi negara-negara importir energi serta memicu pelemahan mata uang regional. Namun demikian, data ekonomi China yang relatif solid memberikan sedikit harapan bagi pemulihan kawasan.
Dengan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati dan mengadopsi strategi risk off. Mereka menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global, terutama dari bank sentral Amerika Serikat.
IHSG Berpeluang Mendapat Dukungan dari Saham Berbasis Komoditas
Di tengah tekanan yang ada, peluang penopang IHSG masih terbuka dari sektor komoditas. Tren harga energi dan bahan baku yang tetap tinggi berpotensi menopang kinerja saham-saham terkait.
Namun secara keseluruhan, analis menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek tetap terbatas. Pasar akan terus dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, arah inflasi global, serta data ekonomi utama dari Amerika Serikat.
