Emiten BNBR dan COCO Menggelar Rights Issue di Tengah Tekanan Pasar Modal

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai menjalankan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui rights issue di tengah kondisi pasar yang belum stabil. PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) dan PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO) menjadi dua perusahaan yang tetap melangkah dengan strategi tersebut pada Maret 2026.
Situasi pasar saat ini masih dipengaruhi berbagai sentimen negatif, mulai dari konflik geopolitik global hingga tekanan fiskal domestik yang mendekati batas defisit 3%. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 18,79% secara year to date dengan arus dana asing keluar mencapai Rp7,83 triliun hingga penutupan perdagangan Senin, 16 Maret 2026.
Analis Menilai Ketidakpastian Pasar Menghambat Penyerapan Rights Issue
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai volatilitas pasar yang tinggi berpotensi menekan tingkat penyerapan rights issue. Namun demikian, ia melihat peluang tetap terbuka bagi emiten dengan fundamental kuat.
Menurut Nico, investor akan tetap mempertimbangkan peluang jika perusahaan mampu menunjukkan arus kas sehat dan prospek bisnis yang menjanjikan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya analisis terhadap dampak konflik global terhadap kinerja emiten sebelum menentukan valuasi.
Ia juga menambahkan bahwa daya tarik rights issue akan sangat bergantung pada kualitas fundamental, prospek sektor, serta valuasi saham. Jika faktor-faktor tersebut terpenuhi, minat investor berpotensi tetap terjaga meskipun dalam kondisi pasar yang menantang.
Analis Mengingatkan Investor Mempertimbangkan Alternatif Pendanaan Lain
Selain rights issue, perusahaan terbuka juga memiliki opsi pendanaan melalui penerbitan obligasi. Namun, Nico melihat kondisi pasar obligasi saat ini juga menghadapi tekanan, terutama setelah lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s menurunkan outlook surat utang.
Kondisi tersebut mendorong emiten untuk berhati-hati karena potensi kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan beban biaya. Oleh sebab itu, baik instrumen saham maupun obligasi perlu dianalisis secara cermat sebelum perusahaan mengambil keputusan pendanaan.
Wafi Menyebut Fundamental dan Tujuan Dana Menentukan Daya Tarik Rights Issue
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menegaskan bahwa keberhasilan rights issue sangat bergantung pada fundamental emiten serta rencana penggunaan dana. Ia menilai investor cenderung lebih tertarik pada aksi korporasi yang bertujuan ekspansi dibandingkan sekadar melunasi utang.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya harga diskon dalam menentukan minat investor terhadap saham baru. Wafi menyebut sinyal kuat penyerapan biasanya terlihat dari adanya komitmen pembeli siaga institusional serta kondisi oversubscribed.
Ia juga menilai rights issue tetap menjadi pilihan utama di tengah suku bunga tinggi karena perusahaan dapat memperoleh dana tanpa menambah beban bunga serta memperbaiki rasio utang terhadap ekuitas.
BNBR dan COCO Menyiapkan Aksi Korporasi dengan Skala Besar
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, BNBR merencanakan penerbitan hingga 86,7 miliar saham baru seri E dari total persetujuan 90 miliar saham dengan nilai nominal Rp12 per saham. Aksi ini telah mendapat restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 27 Februari 2026.
Perseroan juga memastikan kehadiran pembeli siaga yang akan menyerap sisa saham yang tidak diambil investor, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan aksi tersebut.
Di sisi lain, COCO menyiapkan penerbitan maksimal 10,67 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Dana yang diperoleh akan digunakan untuk mendukung ekspansi melalui akuisisi serta belanja modal, termasuk untuk kebutuhan entitas anak.
