Bank Jatim Catat Laba Rp1,54 Triliun dan Dorong Saham BJTM Tetap Murah di Pasar

JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,54 triliun sepanjang 2025. Capaian ini melonjak 20,65% secara tahunan dan memperkuat fundamental perseroan di tengah dinamika sektor perbankan.
Seiring kinerja tersebut, saham BJTM ditutup menguat 0,90% ke level Rp 560 pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026. Harga tersebut masih berada di kisaran saham gopek, meski secara valuasi tergolong murah dengan rasio price to book value (PBV) 0,62 kali dan nilai buku per saham sekitar Rp 909. Sementara itu, price earning ratio (PER) tercatat 5,44 kali.
Manajemen Memperkuat Strategi Pendanaan dan Penyaluran Kredit Selektif
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menegaskan perseroan menjaga kinerja melalui penguatan dana murah serta penerbitan obligasi untuk memastikan pendanaan yang stabil. Selain itu, manajemen juga menyalurkan kredit secara lebih selektif dengan fokus pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan.
Perseroan turut meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas penetrasi kredit konsumer. Di sisi lain, Bank Jatim mendorong pertumbuhan pendapatan nonbunga dengan mengoptimalkan layanan transaksi digital yang terus berkembang.
Bank Jatim Mendorong Pertumbuhan Aset, Kredit, dan Dana Pihak Ketiga
Sepanjang 2025, Bank Jatim mencatat total aset sebesar Rp 105,8 triliun atau tumbuh 3,70% secara tahunan. Penyaluran kredit meningkat 4,98% menjadi Rp 67,24 triliun, yang terdiri dari kredit konsumer Rp 36,54 triliun dan kredit produktif Rp 30,7 triliun.
Selanjutnya, dana pihak ketiga tumbuh 1,43% dengan peningkatan signifikan pada giro sebesar 12,5% menjadi Rp 21,4 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan perseroan dalam memperkuat basis pendanaan murah.
Secara konsolidasi, kinerja Bank Jatim menunjukkan lonjakan yang lebih tinggi. Total aset meningkat 42,93% menjadi Rp 168,85 triliun, sementara kredit melonjak 46,65% menjadi Rp 110,5 triliun. Laba bersih konsolidasi juga naik 24,80% menjadi Rp 1,617 triliun.
Bank Jatim Memperkuat Kualitas Aset dan Mengelola Risiko Kredit
Dalam menjaga kualitas aset, Bank Jatim melakukan hapus buku sebesar Rp 1,03 triliun dengan recovery rate mencapai 18,6%. Selain itu, perseroan juga melakukan restrukturisasi kredit senilai Rp 4,17 triliun sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko.
Manajemen secara konsisten memperketat pengendalian kredit bermasalah melalui monitoring berkala. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas portofolio tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi.
Bank Jatim Mengakselerasi Transformasi Digital dan Ekspansi Layanan
Di sisi lain, Bank Jatim mempercepat transformasi digital melalui pengembangan layanan JConnect. Jumlah pengguna JConnect Mobile mencapai 993.972 user atau tumbuh 22,40% dengan nilai transaksi Rp 65,77 triliun.
Selain itu, JConnect IB Corporate mencatat 11.199 pengguna dengan total transaksi Rp 23,36 triliun. Layanan QRIS Bank Jatim juga mencatatkan 203.725 pengguna dengan nilai transaksi Rp 3,94 triliun, meningkat 47,25% secara tahunan.
Perseroan juga memperluas jaringan melalui AGEN JATIM yang kini mencapai 14.842 agen. Jaringan ini berperan penting dalam meningkatkan akses layanan serta mendukung penyaluran kredit berbasis referral.
Bank Jatim Memperkuat Sinergi BPD dan Menargetkan Pertumbuhan Bisnis 2026
Pada 2025, Bank Jatim mencatat tonggak penting dengan menjadi induk bagi lima bank pembangunan daerah, yaitu Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sultra, dan Bank NTT. Perseroan telah menyelesaikan sinergi permodalan dan kini fokus mengakselerasi sinergi bisnis serta penguatan operasional pada 2026.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan bisnis Bank Jatim di tingkat nasional.
