Saham Bukalapak Mulai Diburu Asing Saat Valuasi Murah dan Laba Tumbuh Signifikan

Investor Asing Masuk dan Dorong Perdagangan Saham BUKA
Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menarik perhatian investor asing pada sesi I perdagangan Kamis, 9 April 2026. Data pasar menunjukkan investor asing mencatatkan aksi beli bersih berdasarkan volume sebesar 16,68 juta saham, menjadikan BUKA sebagai salah satu saham dengan net buy terbesar pada periode tersebut.
Seiring meningkatnya minat beli, harga saham Bukalapak ikut menguat 1,40% ke level Rp145. Aktivitas perdagangan juga terbilang aktif dengan volume mencapai 38,04 juta saham, frekuensi 1.262 kali transaksi, serta nilai transaksi sebesar Rp5,51 miliar.
Kinerja ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya ketika saham BUKA ditutup naik 2,14%. Pada perdagangan tersebut, investor asing juga membukukan net buy sebesar Rp899,45 juta.
Valuasi Rendah Perkuat Daya Tarik Saham Teknologi Ini
Dari sisi valuasi, saham Bukalapak tergolong murah dibandingkan fundamentalnya. Perseroan mencatat rasio price to book value (PBV) sebesar 0,59 kali dan price to earnings ratio (PER) sebesar 4,76 kali.
Valuasi tersebut memperkuat daya tarik saham ini di tengah meningkatnya minat investor terhadap emiten teknologi yang telah mencatatkan profitabilitas. Kondisi ini mendorong pelaku pasar mulai mengoleksi saham BUKA secara bertahap.
Bukalapak Balik Cetak Laba Triliunan pada 2025
Kinerja fundamental Bukalapak menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp3,14 triliun, berbalik dari kerugian Rp1,54 triliun pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba ini didorong oleh lonjakan pendapatan konsolidasi sebesar 46% secara tahunan, dari Rp4,5 triliun menjadi Rp6,5 triliun. Selain itu, performa kuartal keempat juga memperkuat tren positif dengan pendapatan mencapai Rp1,8 triliun atau tumbuh 9% secara kuartalan.
Segmen Bisnis Utama Dorong Pertumbuhan Pendapatan
Kontribusi terbesar terhadap pendapatan berasal dari segmen Gaming yang mengelola platform seperti Itemku dan Lapakgaming. Segmen ini mencatat pendapatan Rp1,5 triliun pada kuartal IV 2025 dan tumbuh 8% secara kuartalan berkat peningkatan transaksi di akhir tahun.
Selain itu, segmen Mitra Bukalapak juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan pendapatan 12% menjadi Rp191 miliar. Peningkatan ini didorong oleh tingginya permintaan produk virtual seperti voucher dan mata uang dalam gim.
Segmen Investment melalui platform B-Money mencatat lonjakan pendapatan sebesar 39% menjadi Rp25 miliar. Sementara itu, segmen Retail menghasilkan Rp74 miliar dengan pertumbuhan 12% yang ditopang oleh strategi omnichannel serta tingginya permintaan akhir tahun.
Bukalapak Perbaiki EBITDA dan Perkuat Posisi Keuangan
Manajemen Bukalapak menegaskan fokus pada keberlanjutan bisnis jangka panjang. Perusahaan berhasil memperbaiki posisi EBITDA yang disesuaikan secara signifikan, dari negatif Rp340 miliar pada 2024 menjadi negatif Rp62 miliar pada 2025.
Pada kuartal IV 2025, EBITDA yang disesuaikan semakin mendekati titik impas dengan posisi negatif Rp9 miliar. Selain itu, kombinasi EBITDA dan pendapatan bunga bersih meningkat menjadi Rp747 miliar dari sebelumnya Rp692 miliar.
Dengan cadangan kas, setara kas, dan investasi likuid mencapai Rp17,8 triliun, Bukalapak memiliki fleksibilitas keuangan yang kuat. Kondisi ini memungkinkan perusahaan terus menjalankan strategi ekspansi, inovasi produk, serta menangkap peluang pertumbuhan di masa depan.
