Saham BUMI Anjlok Tajam Setelah Sempat Sentuh Puncak Awal Tahun

Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami tekanan signifikan sepanjang tahun berjalan 2026. Setelah mencatatkan kinerja impresif di awal Januari, saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini justru berbalik melemah dalam beberapa bulan terakhir.
Pada 6 Januari 2026, saham BUMI sempat mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir di posisi Rp 484. Namun, setelah mencetak rekor tersebut, pergerakan saham mulai kehilangan tenaga hingga akhirnya turun drastis.
Hingga penutupan perdagangan 17 Maret 2026, harga saham BUMI merosot ke level Rp 206. Secara year to date, penurunan ini setara dengan koreksi sebesar 43,72%.
Investor Asing Melakukan Aksi Jual Besar-Besaran pada Saham BUMI
Tekanan terhadap saham BUMI tidak lepas dari aksi jual investor asing yang cukup masif. Berdasarkan data pasar, investor asing mencatatkan net sell mencapai Rp 7,57 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026.
Nilai tersebut menjadikan BUMI sebagai salah satu saham dengan aksi jual bersih terbesar oleh investor asing selama periode tersebut. Arus keluar dana ini turut mempercepat pelemahan harga saham di pasar.
BUMI Mendorong Diversifikasi ke Bisnis Mineral untuk Perbaiki ESG
Di tengah tekanan harga saham, manajemen BUMI tetap melanjutkan strategi diversifikasi bisnis. Perusahaan memperbesar eksposur ke sektor mineral guna memperbaiki profil Environmental, Social, and Governance (ESG).
Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai langkah ini sebagai strategi yang tepat. Ia melihat potensi pertumbuhan yang kuat dari ekspansi bisnis mineral, terutama melalui anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang aktif mengembangkan fasilitas produksi emas dan mineral.
Pendapatan Non-Batu Bara Belum Mampu Menyaingi Bisnis Utama
Meski prospek diversifikasi dinilai positif, kontribusi dari sektor non-batu bara diperkirakan belum mampu mengimbangi pendapatan utama dalam waktu dekat. Skala produksi dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia masih mendominasi struktur bisnis perusahaan.
Kondisi ini membuat kinerja BUMI tetap sangat bergantung pada sektor batu bara dalam jangka pendek, meskipun arah transformasi bisnis sudah mulai terlihat.
Analis Memberikan Rekomendasi Beli dengan Target Harga Lebih Tinggi
Di tengah pelemahan harga saham, analis tetap melihat peluang investasi pada saham BUMI. Muhammad Wafi merekomendasikan beli saham ini dengan target harga Rp 280.
Rekomendasi tersebut mencerminkan potensi pemulihan harga seiring strategi diversifikasi dan prospek jangka panjang perusahaan yang dinilai masih menarik.
