JP Morgan Menetapkan Antam sebagai Saham Pilihan Indonesia Awal Februari 2026

JP Morgan memperbarui daftar saham unggulan di kawasan Asia Tenggara pada awal Februari 2026 dengan memasukkan PT Aneka Tambang Tbk. sebagai satu-satunya wakil Indonesia. Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut menggantikan posisi PT Astra International Tbk. dalam laporan bertajuk Asean High-Conviction Picks yang dirilis pada 1 Februari 2026.
Melalui laporan tersebut, JP Morgan memberikan peringkat overweight untuk saham ANTM dengan target harga Rp4.210 per saham. Analis menilai Antam berpotensi mencatatkan kinerja positif seiring penguatan harga nikel dan emas yang menjadi komoditas utama perseroan.
JP Morgan Menilai Kenaikan Harga Emas dan Nikel Menguatkan Prospek Antam
JP Morgan menyebut kenaikan harga nikel global serta reli harga emas sebagai dua pendorong utama kinerja ANTM pada 2026. Analis juga memperkirakan volume perdagangan emas Antam akan pulih lebih cepat setelah sempat melambat pada paruh kedua 2025.
Pemulihan tersebut ditopang oleh rencana kembali beroperasinya kawasan bebas bea pada kuartal II/2026 serta dilanjutkannya impor emas oleh perusahaan. Selain itu, kebijakan pembagian dividen sebesar 100% dan valuasi saham yang dinilai wajar turut memperkuat daya tarik ANTM di mata investor.
Konsensus Analis Menguatkan Rekomendasi Beli Saham ANTM
Di tingkat konsensus, Antam mengantongi 23 rekomendasi beli dari total 28 analis yang memantau saham tersebut. Sebanyak empat analis merekomendasikan tahan dan satu analis menyarankan jual. Target harga rata-rata 12 bulan tercatat Rp4.262,50 per saham dengan potensi imbal hasil sekitar 11%.
Sepanjang 2025, Antam membukukan penjualan emas sebesar 37.406 kilogram atau setara 1,2 juta troy ounce. Capaian tersebut mencerminkan permintaan domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada periode yang sama, produksi emas perseroan tercatat 743 kilogram atau 23.888 troy ounce.
Antam Mencatat Pertumbuhan Kuat pada Segmen Nikel dan Bauksit
Di segmen nikel, Antam meningkatkan produksi bijih nikel menjadi 16,11 juta wet metric ton pada 2025, naik 62% dibandingkan tahun sebelumnya. Volume penjualan bijih nikel juga tumbuh 75% menjadi 14,58 juta wet metric ton.
Kinerja positif berlanjut pada lini feronikel dan bauksit. Produksi bauksit melonjak 112% menjadi 2,83 juta wet metric ton, sementara penjualan meningkat 157% menjadi 1,89 juta wet metric ton. Produksi alumina naik 23% menjadi 181.690 ton dengan penjualan mencapai 180.221 ton sepanjang 2025.
