Wall Street Melemah Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Saham Teknologi

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan Senin, 30 Maret 2026, dengan pergerakan bervariasi namun cenderung melemah. Lonjakan harga minyak dan tekanan pada saham sektor teknologi mendorong pasar bergerak di zona negatif.
Indeks S&P 500 turun 0,39% ke level 6.343,72 dan mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Posisi ini membuat indeks acuan tersebut terkoreksi lebih dari 9% dari level puncaknya. Penurunan terutama dipimpin oleh saham teknologi yang merosot lebih dari 1%, sementara sektor keuangan dan utilitas masih menunjukkan penguatan terbatas.
Investor Menekan Saham Teknologi dan Mengangkat Indeks Volatilitas
Selanjutnya, indeks Nasdaq Composite ikut terkoreksi sebesar 0,73% ke posisi 20.794,64. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 0,11% atau 49,50 poin ke level 45.216,14.
Pergerakan pasar juga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor. Indeks volatilitas CBOE atau VIX, yang sering dijadikan indikator ketakutan pasar, sempat melonjak dan menembus level 30. Kenaikan ini menandakan pelaku pasar semakin waspada terhadap risiko yang berkembang.
Lonjakan Harga Minyak Mendorong Tekanan Pasar Saham Global
Kenaikan tajam harga energi menjadi faktor utama yang menekan Wall Street. Harga minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,25% hingga mencapai US$ 102,88 per barel, level tertinggi sejak Juli 2022.
Sementara itu, harga minyak Brent tercatat naik tipis 0,19% ke posisi US$ 112,78 per barel. Bahkan, harga Brent berada di jalur mencatat lonjakan bulanan terbesar sepanjang sejarah dengan kenaikan sekitar 55%.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global dan menekan sentimen investor di pasar saham.
The Fed Menahan Sikap di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif terkendali meskipun harga energi meningkat. Ia menegaskan bank sentral belum akan mengambil langkah kebijakan dalam waktu dekat karena dampak ekonomi dari lonjakan harga minyak dan konflik geopolitik masih belum pasti.
Seiring dengan pernyataan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun sebesar 9 basis poin ke level 4,35%. Penurunan yield ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian pasar.
