IHSG Menutup Perdagangan dengan Koreksi ke Level 8.620 saat Saham Tambang Tetap Menguat

Pasar Saham Mengakhiri Perdagangan Kamis dengan Tekanan Jual
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri perdagangan Kamis, 11 Desember 2025, dengan koreksi setelah tekanan jual meningkat menjelang akhir sesi. IHSG melemah 0,92 persen dan ditutup di level 8.620,48, sekaligus kembali ke zona merah setelah sempat bergerak positif pada awal perdagangan.
Sejak pembukaan di level 8.764,09, IHSG sempat menyentuh titik tertinggi di 8.776,97. Namun, tekanan jual yang muncul pada sesi pertama mendorong indeks berbalik arah dan bertahan di teritori negatif hingga penutupan. Sepanjang hari, IHSG bergerak di rentang 8.560,10 hingga 8.776,97, mencerminkan volatilitas yang masih tinggi.
Data Perdagangan Menunjukkan Dominasi Saham Melemah
Berdasarkan data RTI Infokom, sebanyak 500 saham mencatatkan pelemahan, sementara 201 saham menguat dan 98 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa koreksi terjadi secara cukup merata di pasar. Seiring dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp5.855,61 triliun.
Tekanan jual paling terasa pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham BMRI turun 0,40 persen ke level Rp4.950, saham BBCA melemah 0,93 persen ke Rp8.000, dan saham BBRI terkoreksi lebih dalam sebesar 1,09 persen ke posisi Rp3.620.
Saham Tambang Menopang Pasar di Tengah Koreksi
Di tengah pelemahan indeks, saham sektor pertambangan justru menunjukkan kinerja positif. Saham TINS menguat 1,32 persen ke level Rp3.060, sementara ENRG melesat 4,59 persen ke Rp1.480. Saham RAJA yang dimiliki konglomerat Happy Hapsoro juga mencatatkan kenaikan 1,17 persen ke posisi Rp6.500.
Pergerakan tersebut menandakan adanya rotasi sektor, ketika investor mulai mengalihkan perhatian ke saham-saham komoditas yang dinilai masih memiliki prospek jangka pendek.
Analis Menilai IHSG Masih Bergerak Konsolidatif
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi menguat setelah reli panjang sebelumnya. Ia menyebut indeks masih bergerak di atas area support penting di kisaran 8.650 hingga 8.690, yang berperan sebagai penentu arah pergerakan jangka pendek.
Hendra menilai peluang penguatan lanjutan masih terbuka selama level support tersebut bertahan, dengan resistance terdekat di area 8.720 hingga 8.745. Meski demikian, ia menegaskan bahwa volatilitas pasar tetap tinggi karena investor terus mencermati arah kebijakan moneter global dan prospek ekonomi Amerika Serikat.
