Penggunaan Market Order Melonjak Tajam dan Mengubah Pola Transaksi Investor

Investor Mempercepat Eksekusi Transaksi Saham di Bursa Efek Indonesia
JAKARTA — Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia menunjukkan perubahan signifikan sepanjang 2025. Data BEI mencatat penggunaan Market Order melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menandai pergeseran perilaku investor yang kini semakin mengutamakan kecepatan eksekusi transaksi di tengah pergerakan harga yang semakin dinamis.
Data BEI Mencatat Lonjakan Market Order Sepanjang 2025
Hingga Agustus 2025, rata-rata porsi Market Order mencapai 4,23 persen dari total order matched di bursa. Dari sisi nilai, transaksi Market Order menembus lebih dari Rp1 triliun per hari pada Agustus. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 98,5 persen dibandingkan 2024, sekaligus menunjukkan peningkatan signifikan minat investor terhadap eksekusi instan.
BEI Menilai Market Order Mendukung Efisiensi Transaksi
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa lonjakan Market Order bukan sekadar tren sesaat. Ia menegaskan bahwa fitur ini membantu investor memperoleh eksekusi yang lebih optimal, terutama dalam kondisi pasar yang bergerak cepat. Menurutnya, Market Order menjadi bagian dari transformasi struktur transaksi domestik yang semakin responsif terhadap dinamika harga.
Volatilitas Saham dan IPO Mendorong Pemanfaatan Market Order
Pertumbuhan penggunaan Market Order juga dipicu oleh meningkatnya minat investor pada saham dengan volatilitas intraday tinggi. Investor memanfaatkan Market Order untuk menangkap momentum gap up dan gap down tanpa harus menunggu antrian harga. Selain itu, antusiasme terhadap saham-saham baru tercatat melalui penawaran umum perdana mendorong penggunaan Market Order, khususnya tipe fill and kill pada sesi pra-pembukaan.
Teknologi Transaksi Mempercepat Perubahan Struktur Pasar
Perkembangan teknologi perdagangan yang diadopsi perusahaan sekuritas turut mempercepat struktur pasar. Volume transaksi harian yang meningkat membuat sebagian investor memilih kepastian eksekusi dibandingkan ketepatan harga. Kondisi ini mendorong Market Order menjadi pilihan utama, terutama saat pasar bergerak cepat dan kompetisi antrian Limit Order semakin ketat.
Tren Global Menguatkan Perubahan Perilaku Investor Domestik
BEI mencatat pola serupa juga terjadi di bursa global seperti NYSE dan Nasdaq, di mana Market Order meningkat saat volatilitas tinggi. Meski pasar Indonesia belum sepenuhnya didominasi perdagangan algoritmik, arah pergerakan menunjukkan investor domestik semakin adaptif terhadap harga real time dan perubahan kondisi pasar global.
Risiko Slippage Mendorong Pentingnya Edukasi Investor
Di balik keunggulan kecepatan, Market Order tetap membawa risiko slippage, terutama pada saham berlikuiditas rendah atau dengan spread lebar. Oleh karena itu, BEI menilai edukasi terkait karakteristik order menjadi krusial agar investor dapat menyesuaikan strategi transaksi. Ke depan, peningkatan Market Order berpotensi memengaruhi pembentukan harga pembukaan, kedalaman order book, dan dinamika antrian Limit Order di pasar saham Indonesia.
