OJK Menyoroti Dua Tahun Absennya IPO BUMN di Pasar Saham Indonesia

OJK Mengakui Peran Strategis BUMN dalam Memperkuat Likuiditas Pasar
Otoritas Jasa Keuangan menanggapi absennya penawaran umum perdana saham dari badan usaha milik negara selama sekitar dua tahun terakhir. Hingga kini, jumlah BUMN dan anak usaha BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tetap sebanyak 37 entitas, terdiri atas 14 BUMN dan 23 anak perusahaan. Kondisi tersebut tidak berubah sejak 2023.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menegaskan bahwa keterlibatan BUMN di pasar modal memiliki peran penting. Menurutnya, kehadiran perusahaan pelat merah mampu memperkuat likuiditas sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi bagi investor.
OJK Mengintensifkan Sosialisasi untuk Mendorong Kesiapan IPO
OJK terus menjalankan program pendalaman pasar secara berkelanjutan bersama self-regulatory organization dan pelaku industri pasar modal. Melalui langkah tersebut, OJK aktif melakukan sosialisasi dan diskusi dengan perusahaan yang memiliki potensi dan kesiapan untuk melantai di bursa, termasuk BUMN dan anak perusahaannya.
Inarno menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai proses penawaran umum serta mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi calon emiten. Meski demikian, OJK menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya berada di tangan manajemen dan pemegang saham masing-masing perusahaan.
OJK Menegaskan Perannya Menjaga Proses IPO Tetap Transparan
OJK menempatkan diri sebagai regulator yang memastikan setiap proses IPO berjalan profesional, transparan, dan berorientasi pada perlindungan investor. Oleh karena itu, OJK tidak dapat memaksa BUMN untuk segera mencatatkan sahamnya, meskipun potensi kontribusinya terhadap pasar modal cukup besar.
Sebagai catatan, BUMN terakhir yang melantai di Bursa Efek Indonesia adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. Anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut mencatatkan sahamnya pada 24 Februari 2023 dengan perolehan dana mencapai Rp9,06 triliun.
Danantara Menyatakan Kesiapan Mendukung Pasar Modal Nasional
Di sisi lain, peluang IPO BUMN kembali terbuka seiring kehadiran Danantara Indonesia. Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa sovereign wealth fund tersebut berkomitmen berkontribusi terhadap pengembangan pasar modal Indonesia.
Danantara menyiapkan total rencana investasi hingga US$10 miliar atau setara Rp165,8 triliun. Sekitar 80 persen dana tersebut akan dialokasikan untuk proyek domestik, termasuk investasi di pasar publik, obligasi, dan instrumen pasar modal. Pandu juga menargetkan peningkatan bobot saham Indonesia di indeks MSCI hingga 5 hingga 8 persen seiring dengan meningkatnya likuiditas pasar.
