Rights Issue Diproyeksikan Ramai pada 2026 Seiring Suku Bunga Murah

Bursa Memperkirakan Aksi Rights Issue Meningkat pada 2026
Bursa Efek Indonesia memproyeksikan aksi penghimpunan dana melalui rights issue akan kembali ramai pada 2026. Proyeksi ini muncul seiring tren penurunan suku bunga acuan, stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan, serta potensi masuknya arus modal asing. Kondisi tersebut dinilai menciptakan iklim pasar yang lebih kondusif bagi emiten untuk menambah modal demi ekspansi bisnis.
Hingga 12 Desember 2025, BEI mencatat sebanyak 12 emiten telah menerbitkan rights issue dengan total dana terkumpul Rp17,5 triliun. Nilai ini masih lebih rendah dibandingkan capaian 2024 yang mencapai Rp34,41 triliun dan tahun 2023 sebesar Rp51,37 triliun, sehingga membuka ruang pemulihan pada tahun berikutnya.
Emiten Besar Menghimpun Dana Meski Pasar Masih Selektif
Sejumlah emiten telah memanfaatkan skema rights issue sepanjang 2025. PT Solusi Sinergi Digital Tbk. menghimpun dana Rp5,9 triliun melalui penerbitan 2,95 miliar saham baru. Sementara itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. menggalang Rp5,49 triliun dengan melepas 8,08 miliar saham baru. Meski begitu, aktivitas rights issue secara keseluruhan masih tergolong sepi karena investor cenderung selektif di tengah likuiditas yang ketat.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai kondisi tersebut dipicu oleh tingginya ketidakpastian global serta banyaknya emiten yang sudah melakukan rights issue besar pada 2023 dan 2024. Akibatnya, pasar membutuhkan waktu untuk kembali menyerap aksi korporasi berskala besar.
Analis Menilai Stabilitas IHSG Mendorong Optimisme 2026
Memasuki 2026, David melihat peluang rights issue kembali semarak seiring stabilnya IHSG dan arah kebijakan moneter global yang lebih akomodatif. Ia menekankan sentimen suku bunga dan kebijakan The Fed akan menjadi faktor utama yang memengaruhi minat emiten dan investor. Selain itu, kinerja emiten serta narasi pertumbuhan ekonomi domestik juga berperan penting dalam mendorong kepercayaan pasar.
Ia memperkirakan sektor digital dan telekomunikasi akan aktif melakukan rights issue karena kebutuhan belanja modal yang besar. Sektor transportasi dan aviasi juga berpotensi ramai seiring konsolidasi dan pemulihan bisnis, diikuti sektor energi, infrastruktur, dan properti yang kembali melihat peluang ekspansi jangka panjang.
Pelaku Pasar Menilai Ekspansi Emiten Memicu Rights Issue
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mendorong emiten melakukan ekspansi agresif. Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang peningkatan aksi korporasi, termasuk rights issue, sebagai sumber pendanaan yang relevan. Dengan dukungan suku bunga yang lebih rendah, pasar menilai 2026 sebagai momentum strategis bagi emiten untuk memperkuat struktur permodalan.
