IHSG Melaju Kencang Saat Rupiah Tertekan Menjelang Keputusan The Fed

Investor Mengangkat IHSG ke Rekor Baru di Tengah Volatilitas Global
Pasar keuangan Indonesia membuka pekan dengan pergerakan yang kontras. Di Jakarta, Senin 8 Desember 2025, investor mendorong Indeks Harga Saham Gabungan menembus rekor tertinggi sepanjang masa, sementara nilai tukar rupiah justru melemah. Kondisi ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang agresif di bursa saham, namun tetap berhati-hati menghadapi ketidakpastian global.
IHSG menutup perdagangan dengan kenaikan 77,93 poin atau 0,9 persen ke level 8.710,69. Sepanjang sesi, mayoritas saham bergerak di zona hijau dengan 402 saham menguat, 282 saham melemah, dan 273 saham stagnan. Lonjakan indeks ini menunjukkan minat beli yang kuat meski sentimen eksternal masih membayangi.
Aktivitas Transaksi Meningkat dan Saham Grup Bakrie Mendominasi
Seiring penguatan indeks, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga meningkat signifikan. Nilai transaksi pada perdagangan Senin mencapai Rp27,28 triliun dengan volume 56,16 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,89 juta transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut naik hingga menyentuh Rp16.005 triliun.
Di tengah ramainya perdagangan, saham-saham Grup Bakrie kembali menyita perhatian investor. Bumi Resources dan Dharma Henwa mencatat nilai transaksi terbesar di pasar reguler. Investor membukukan transaksi Rp2,43 triliun pada saham BUMI dan Rp1,9 triliun pada saham DEWA, mencerminkan tingginya minat spekulatif pada saham-saham tersebut.
Rupiah Melemah Meski Dolar Global Tertekan
Berbeda dengan bursa saham, pasar valuta asing menunjukkan tekanan pada rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,33 persen ke level Rp16.685 per dolar AS. Sejak pembukaan perdagangan, rupiah bergerak di zona merah dan berfluktuasi di rentang Rp16.640 hingga Rp16.693 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS justru turun 0,11 persen ke level 98,885. Kondisi tersebut menandakan rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar global karena investor masih menahan posisi menjelang agenda penting bank sentral Amerika Serikat.
Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga dan Tekanan Obligasi Meningkat
Pelaku pasar global kini memusatkan perhatian pada rapat Federal Open Market Committee The Fed yang berlangsung pada 9–10 Desember 2025. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang 88,4 persen bagi The Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,50–3,75 persen.
Sementara itu, tekanan juga muncul di pasar obligasi domestik. Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun naik ke level 6,22 persen dari 6,19 persen pada akhir pekan lalu. Kenaikan yield ini menandakan investor mulai melepas SBN, sejalan dengan sikap hati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter global.
