Bank Indonesia mencatat arus modal asing keluar Rp130 miliar akibat tekanan SRBI

Bank Indonesia memetakan arus modal asing pada periode 8–11 Desember 2025
JAKARTA – Bank Indonesia mencatat arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik sebesar Rp130 miliar selama periode 8–11 Desember 2025. Bank sentral menegaskan bahwa tekanan utama berasal dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meskipun aliran dana asing masih masuk ke pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa investor nonresiden tetap menunjukkan minat pada aset keuangan tertentu. Investor asing membukukan pembelian bersih di pasar saham senilai Rp1,14 triliun dan mencatatkan aliran masuk ke pasar SBN sebesar Rp2,85 triliun. Namun, pada saat yang sama, investor asing melepaskan kepemilikan SRBI dalam jumlah besar sehingga menekan total arus modal.
Investor asing melepas SRBI dalam jumlah signifikan
Bank Indonesia menyoroti aksi jual bersih investor asing pada instrumen SRBI yang mencapai Rp4,12 triliun. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan arus masuk di instrumen lainnya, sehingga secara agregat menciptakan posisi jual bersih sebesar Rp0,13 triliun atau setara Rp130 miliar.
Ramdan menyampaikan bahwa data transaksi pada periode tersebut menunjukkan pergeseran preferensi investor nonresiden. Investor asing secara aktif menyeimbangkan portofolio dengan mengurangi eksposur pada SRBI di tengah dinamika pasar keuangan global dan pergerakan imbal hasil instrumen keuangan internasional.
Bank Indonesia mencatat tekanan kumulatif sepanjang 2025
Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 11 Desember 2025, Bank Indonesia mencatat investor nonresiden melakukan jual bersih Rp25,95 triliun di pasar saham. Selain itu, investor asing juga mencatatkan jual bersih Rp3,49 triliun di pasar SBN dan Rp116,34 triliun pada instrumen SRBI. Data tersebut mencerminkan tekanan berkelanjutan pada pasar keuangan domestik sepanjang tahun berjalan.
Pada sisi lain, pergerakan pasar obligasi menunjukkan dinamika yang kontras. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,16 persen, sementara imbal hasil US Treasury Note tenor 10 tahun naik ke posisi 4,157 persen pada Kamis, 11 Desember 2025. Perbedaan arah yield ini turut memengaruhi strategi investasi global.
Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan menjaga stabilitas eksternal
Bank Indonesia juga mencermati peningkatan premi risiko investasi Indonesia. Credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun naik menjadi 72,99 basis poin pada Kamis, 11 Desember 2025, dari posisi 71,28 basis poin pada Jumat, 5 Desember 2025. Sementara itu, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.652 per dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate pada Jumat, 12 Desember 2025.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Bank sentral mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan arus modal global.
