Saham BUMI Melanjutkan Penguatan pada Sesi Pertama Perdagangan 11 Desember 2025
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3893146/original/099183700_1641196873-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-3.jpg)
Saham PT Bumi Resources Tbk melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis, 11 Desember 2025, hingga penutupan sesi pertama. Kinerja positif saham BUMI muncul saat Indeks Harga Saham Gabungan justru bergerak melemah. Kondisi ini menunjukkan minat beli investor terhadap saham emiten tambang batu bara tersebut masih terjaga di tengah tekanan pasar secara umum.
Mengacu pada data perdagangan, saham BUMI ditutup menguat signifikan sebesar 14,11 persen ke level Rp372 per saham pada sesi pertama. Sejak pembukaan, saham ini langsung bergerak naik dan membuka perdagangan di posisi Rp332 per saham. Selanjutnya, pergerakan harga berlangsung aktif dengan kisaran terendah di level Rp326 dan tertinggi menyentuh Rp378 per saham.
Investor Mendorong Lonjakan Harga dan Aktivitas Transaksi Saham BUMI
Seiring penguatan harga, aktivitas transaksi saham BUMI juga berlangsung sangat ramai. Total frekuensi perdagangan tercatat mencapai 372.562 kali. Sementara itu, volume transaksi menembus 160,37 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp5,6 triliun. Tingginya nilai dan volume perdagangan mencerminkan besarnya antusiasme pelaku pasar terhadap saham BUMI pada perdagangan hari ini.
Penguatan tersebut turut memperpanjang reli saham BUMI sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan data Google Finance, harga saham BUMI telah melambung 87,88 persen dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan secara year to date, saham ini mencatatkan lonjakan tajam hingga 202,44 persen. Kinerja tersebut menempatkan BUMI sebagai salah satu saham dengan kenaikan paling agresif di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2025.
IHSG Melemah Saat Sektor Energi Menjadi Penopang Pasar
Berbeda dengan pergerakan saham BUMI, IHSG justru berbalik melemah pada sesi pertama perdagangan. Indeks turun 0,31 persen ke posisi 8.673,71. Pada saat yang sama, indeks LQ45 juga terkoreksi 0,60 persen ke level 851,7. Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak di rentang tertinggi 8.776,97 dan terendah 8.662,05.
Tekanan pasar tercermin dari jumlah saham yang melemah lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Sebanyak 425 saham terkoreksi, sementara 229 saham mencatatkan penguatan dan 145 saham bergerak stagnan. Total nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp19,7 triliun dengan volume perdagangan 40,4 miliar saham.
Di tengah tekanan tersebut, sektor energi justru tampil sebagai penopang utama pasar dengan kenaikan 2,41 persen. Penguatan sektor ini sejalan dengan lonjakan saham BUMI. Sebaliknya, sektor consumer nonsiklikal mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,47 persen, diikuti sektor transportasi dan infrastruktur yang turut tertekan.
