Analis Memproyeksikan IHSG Rawan Koreksi dan Menyusun Rekomendasi Saham Akhir Pekan
Investor Mengantisipasi Tekanan Jual Usai IHSG Terkoreksi
Sejumlah analis pasar modal memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan masih rawan koreksi pada perdagangan Jumat, 19 Desember 2025. Tekanan jual yang mendominasi sesi sebelumnya mendorong investor bersikap lebih selektif dalam menentukan strategi transaksi saham jangka pendek.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG menutup perdagangan Kamis, 18 Desember 2025, dengan koreksi 0,68 persen ke level 8.618,19. Indeks bergerak fluktuatif di rentang 8.730,71 hingga 8.618,19, seiring mayoritas saham melemah. Dari seluruh konstituen, pelaku pasar mencatat 431 saham turun, sementara 266 saham menguat dan 261 saham bergerak stagnan.
Tekanan terbesar datang dari saham berkapitalisasi besar. Investor melepas saham PT Amman Mineral Internasional Tbk., PT Mora Telematika Indonesia Tbk., dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. yang masing-masing terkoreksi lebih dari empat persen. Pelemahan juga menjalar ke sejumlah saham energi dan properti, sehingga membatasi ruang penguatan indeks secara keseluruhan.
Saham Perbankan Menahan Tekanan Pasar Secara Terbatas
Di tengah tekanan tersebut, investor justru mendorong saham perbankan besar bergerak menguat. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan penguatan terbatas, sehingga menahan koreksi IHSG agar tidak bergerak lebih dalam.
Penguatan selektif juga terjadi pada saham sektor kesehatan dan perbankan menengah. Kondisi ini menunjukkan investor mulai melakukan rotasi aset dengan mempertimbangkan fundamental emiten yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar.
Analis Menyusun Level Teknis dan Strategi Transaksi Saham
Tim analis MNC Sekuritas menilai IHSG saat ini berada dalam fase rawan koreksi lanjutan sebagai bagian dari pergerakan gelombang teknikal. Analis memproyeksikan IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 8.553 hingga 8.493, dengan resistance berada pada rentang 8.714 hingga 8.821.
Dalam skenario terburuk, analis menilai indeks masih memiliki peluang terkoreksi lebih dalam menuju area 8.000-an apabila tekanan jual meningkat. Oleh karena itu, analis mendorong investor menerapkan strategi buy on weakness pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Kalbe Farma Tbk., serta melakukan speculative buy pada saham PT Sentul City Tbk. dan PT Pyridam Farma Tbk.
Pergerakan pasar pada akhir pekan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang tetap mencermati peluang di tengah tekanan, sembari menunggu arah pasar yang lebih jelas menjelang penutupan tahun.
