IHSG Menguat 0,57% Saat Bursa Membuka Perdagangan dan Kembali Mengincar Level 8.700
Pasar saham mendorong IHSG naik sejak awal perdagangan Jumat pagi
Indeks Harga Saham Gabungan membuka perdagangan dengan penguatan solid pada Jumat pagi, 19 Desember 2025. Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG naik 49,44 poin atau 0,57% ke posisi 8.667,63 sejak sesi awal dimulai. Pergerakan positif ini mencerminkan optimisme investor yang kembali mengalir ke pasar saham domestik setelah volatilitas dalam beberapa sesi terakhir.
Seiring penguatan indeks, aktivitas perdagangan menunjukkan dominasi saham yang bergerak naik. Sebanyak 305 saham menguat, sementara 91 saham melemah dan 562 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 386,3 miliar dengan volume 720,4 juta saham yang berpindah tangan dalam 68.520 kali transaksi. Data tersebut menegaskan bahwa minat pelaku pasar mulai kembali terbangun sejak pembukaan.
Investor mencermati realisasi APBN sebagai sentimen domestik utama
Dari dalam negeri, pelaku pasar mengarahkan perhatian pada perkembangan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Investor menilai kinerja fiskal pemerintah berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi serta arah kebijakan lanjutan. Oleh karena itu, sentimen fiskal domestik menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan IHSG di awal perdagangan.
Optimisme tersebut muncul seiring ekspektasi bahwa pengelolaan anggaran tetap berada dalam jalur yang terjaga. Kondisi ini memberi ruang bagi pasar saham untuk mempertahankan tren positif, terutama di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Pasar global menunggu arah kebijakan Bank of Japan dan data inflasi Jepang
Dari luar negeri, perhatian investor tertuju pada Jepang. Pasar global berada dalam mode siaga menjelang rilis data inflasi nasional Jepang yang diperkirakan meningkat ke level 3,0% secara tahunan. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan biaya energi dan impor yang mulai menekan daya beli masyarakat.
Sejalan dengan itu, pasar memperkirakan Bank of Japan akan mengambil langkah bersejarah dengan menaikkan suku bunga acuan ke level 0,75%. Jika terealisasi, kebijakan ini menandai upaya agresif otoritas moneter Jepang untuk keluar dari era suku bunga ultra-rendah yang berlangsung selama puluhan tahun.
Surplus neraca perdagangan Jepang sebesar 322,2 miliar yen yang baru dirilis turut memperkuat keyakinan bahwa perekonomian Jepang cukup tangguh menghadapi kenaikan biaya pinjaman. Namun, investor global tetap mewaspadai potensi volatilitas nilai tukar yen serta pergeseran arus modal carry trade yang dapat memengaruhi pasar keuangan regional, termasuk Indonesia.
