Huayou Holdings Group Mengambil Alih Mayoritas Saham KDTN Lewat Ruby Mining
Raksasa industri baterai China masuk ke KDTN melalui akuisisi strategis
PT Purisentul Permai Tbk. mengonfirmasi rencana pengambilalihan 86% saham perseroan oleh Ruby Mining Ltd pada Kamis, 18 Desember 2025, di Jakarta. Ruby Mining merupakan anak usaha yang dimiliki langsung oleh Huayou Holdings Group, perusahaan tambang nikel dan material baterai kendaraan listrik terbesar asal China. Aksi ini menandai langkah strategis Huayou dalam memperluas jejak bisnisnya di Indonesia melalui kendaraan perusahaan terbuka.
Huayou Holdings Group menjalankan bisnis terintegrasi yang mencakup pertambangan nikel, pengolahan smelter, teknologi HPAL, produksi material katoda baterai, hingga daur ulang baterai. Perusahaan tersebut telah tercatat di Bursa Saham China dan memegang peran penting dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik. Masuknya Huayou ke KDTN langsung menarik perhatian pelaku pasar karena perbedaan skala aset yang sangat signifikan.
Huayou memperkuat basis industri baterai lewat ekspansi agresif di Indonesia
Di Indonesia, Huayou telah mengoperasikan sedikitnya sembilan fasilitas smelter, termasuk pabrik dengan teknologi High Pressure Acid Leaching yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate sebagai bahan baku utama baterai lithium. Kehadiran ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat strategis dalam rantai pasok baterai global.
Salah satu proyek terbesar Huayou adalah Indonesia Pomalaa Industrial Park di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kawasan industri hijau terintegrasi ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional dan diproyeksikan berkembang menjadi pusat industri baterai kelas dunia dengan standar ESG tinggi. Selain itu, Huayou juga menjalin kerja sama strategis dengan Vale Indonesia dan Ford Motor Company untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Berdasarkan estimasi industri dan data publik, total nilai aset Huayou Holdings Group di Indonesia diperkirakan mencapai Rp180 triliun. Nilai tersebut kontras dengan kapitalisasi pasar KDTN yang masih berada di kisaran Rp1,2 triliun. Perbedaan ini mendorong spekulasi bahwa KDTN berpotensi menjadi listed vehicle bagi ekspansi aset Huayou di Tanah Air.
KDTN membuka peluang transformasi menuju sektor nikel dan energi hijau
Masuknya Huayou melalui Ruby Mining membuka peluang transformasi fundamental bagi KDTN. Emiten yang sebelumnya bergerak di sektor jasa akomodasi dan perhotelan kini berpotensi beralih menuju bisnis berbasis nikel dan baterai kendaraan listrik. Pelaku pasar menilai KDTN masih berada pada valuasi yang relatif rendah apabila ke depan terjadi injeksi aset melalui skema right issue, private placement, atau aksi korporasi lainnya.
Apabila integrasi aset Huayou terealisasi secara resmi, pasar menilai harga saham KDTN berpotensi bergerak ke level yang jauh lebih tinggi dibandingkan posisi saat ini. Hingga kini, manajemen KDTN belum mengumumkan rincian rencana lanjutan pasca akuisisi mayoritas saham tersebut.
