Laba UNVR Melonjak Tajam Saat SMDR Siapkan Ekspansi di Tengah Tekanan IHSG

JAKARTA – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 12 Februari 2026, ditutup melemah di tengah tekanan sentimen global. Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 0,31 persen dan berakhir di level 8.265,35. Meski demikian, sejumlah emiten justru mencatat kinerja positif dan menyiapkan langkah ekspansi agresif.
Saham berkapitalisasi besar seperti ENRG, BMRI, dan TLKM menopang pergerakan indeks dengan penguatan. Sebaliknya, BBCA, DSSA, dan BRPT membebani laju IHSG setelah bergerak di zona merah. Investor asing juga membukukan aksi jual bersih sekitar Rp2,03 triliun di pasar reguler dan Rp1,49 triliun secara keseluruhan, sehingga menambah tekanan di pasar.
Dari sisi sektoral, mayoritas indeks sektor terkoreksi dengan sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam. Sementara itu, sektor basic industry tampil paling kuat. Tekanan eksternal turut memengaruhi sentimen setelah bursa Amerika Serikat melemah, tercermin dari penurunan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq. Arus keluar dana asing juga menekan ETF EIDO dan MSCI Indonesia sehingga memicu fluktuasi tinggi di pasar domestik.
UNVR Catat Lonjakan Laba Bersih Lebih dari 126 Persen Sepanjang 2025
Di tengah tekanan pasar, PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR mencatat kinerja impresif sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp7,64 triliun atau melonjak 126,83 persen secara tahunan.
Perseroan juga meningkatkan penjualan bersih sebesar 4,31 persen menjadi Rp31,94 triliun. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan lebih dari 4 persen, disusul segmen makanan dan minuman yang tumbuh mendekati 5 persen.
Selain mendorong penjualan, manajemen menekan beban pemasaran serta beban umum dan administrasi sehingga laba usaha meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan saham UNVR pun bertahan di atas rata-rata jangka pendek pada penutupan terakhir.
SMDR Alokasikan Belanja Modal Rp3,36 Triliun untuk Perkuat Armada dan Logistik
Sementara itu, PT Samudera Indonesia Tbk atau SMDR menyiapkan ekspansi besar pada 2026. Perseroan menganggarkan belanja modal sekitar US$200 juta atau setara Rp3,36 triliun untuk memperkuat kapasitas usaha.
Manajemen akan menggunakan dana tersebut untuk menambah kapal peti kemas, kapal pengangkut bahan kimia, dan kapal LNG. Selain itu, SMDR juga mengembangkan fasilitas kepelabuhanan dan logistik, termasuk di kawasan terminal Patimban.
SMDR berpotensi memperoleh dukungan dari rencana kebijakan insentif bea masuk nol persen untuk komponen galangan kapal yang tengah dibahas pemerintah. Jika kebijakan tersebut terealisasi, perseroan dapat menekan biaya proyek sekaligus meningkatkan efisiensi ekspansi di tengah dinamika IHSG.
