Analis Prediksi IHSG Berpotensi Turun ke Level 6.500 Pekan Depan

Edwin Sebayang Menilai Tekanan Global dan Domestik Dapat Melemahkan IHSG
JAKARTA — Analis pasar memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi turun hingga ke level 6.500 pada pekan depan. Sejumlah faktor eksternal dan domestik mulai dari lonjakan harga minyak hingga risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mendorong potensi koreksi lebih dalam di pasar saham Indonesia.
Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menjelaskan kondisi pasar global dan domestik saat ini memberi tekanan terhadap pergerakan indeks. Ia menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan berbagai indikator ekonomi yang dapat memicu volatilitas pasar dalam waktu dekat.
Selain itu, pasar saham Indonesia juga akan memasuki periode perdagangan menjelang libur panjang Idulfitri. Situasi ini biasanya membuat sebagian investor mengurangi aktivitas transaksi sehingga berpotensi meningkatkan tekanan jual di pasar.
Pelaku Pasar Mengawasi Level Psikologis 7.000
Edwin menegaskan bahwa investor harus memantau level psikologis 7.000 pada IHSG. Ia menilai level tersebut menjadi batas penting yang menentukan arah pergerakan indeks dalam jangka pendek.
Menurutnya, jika IHSG menembus batas tersebut, tekanan jual dapat semakin meningkat dan mendorong indeks bergerak menuju level 6.500. Kondisi ini membuat pelaku pasar perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Ia juga menyoroti sejumlah indikator yang memperkuat potensi pelemahan pasar. Harga minyak mentah Brent tercatat mendekati US$104 per barel, sementara nilai tukar dolar AS terhadap rupiah bergerak mendekati Rp17.000 per dolar AS. Kombinasi kedua faktor ini dinilai dapat memicu tekanan tambahan terhadap perekonomian domestik.
Harga Minyak Tinggi Berpotensi Memperlebar Defisit APBN
Edwin juga menilai lonjakan harga minyak dapat memengaruhi kondisi fiskal Indonesia. Ia menyebut pemerintah berpotensi menghadapi defisit APBN di atas 3 persen apabila program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan tanpa penyesuaian.
Jika defisit tersebut benar-benar melewati batas, risiko terhadap peringkat kredit Indonesia bisa meningkat. Dalam situasi tersebut, lembaga pemeringkat tidak hanya menurunkan outlook, tetapi juga dapat mempertimbangkan penurunan rating secara langsung.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memperburuk sentimen investor di pasar keuangan domestik.
Pelemahan Bursa Amerika Serikat Memperburuk Sentimen Global
Di sisi lain, tekanan pasar juga datang dari kinerja bursa saham Amerika Serikat yang melemah pada akhir pekan. Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Indeks S&P 500 tercatat melemah selama tiga pekan berturut-turut dan turun lebih dari 3 persen sejak awal tahun. Pada penutupan perdagangan terakhir, indeks tersebut turun 0,6 persen ke level 6.632,53 poin.
Sementara itu, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi terkoreksi 0,9 persen menjadi 22.105,36 poin dan mencatat penurunan mingguan sekitar 1,3 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average juga turun 0,3 persen ke posisi 46.559,83 poin dan menutup pekan dengan pelemahan sekitar 2 persen.
Pergerakan negatif di bursa global tersebut turut memperbesar tekanan terhadap pasar saham Indonesia, sehingga investor disarankan tetap mencermati dinamika ekonomi global dan domestik dalam beberapa waktu ke depan.
