Saham ADMR dan AADI Menguat Saat IHSG Anjlok Lebih dari 3 Persen

Saham ADMR dan AADI Menopang IHSG di Tengah Tekanan Pasar
JAKARTA — Saham emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Boy Thohir, yakni PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), justru mencatat penguatan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (13/3/2026).
Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi 3,05% atau turun 224,90 poin ke level 7.137,21. Di tengah pelemahan tersebut, saham ADMR berhasil naik 3,19% ke posisi Rp1.940 per saham. Sementara itu, saham AADI ikut menguat 1,97% dan ditutup di level Rp10.375.
Kedua saham berkapitalisasi besar itu turut menahan penurunan indeks agar tidak jatuh lebih dalam. Kontribusi masing-masing saham terhadap pergerakan IHSG tercatat sekitar 0,66 poin.
Performa positif tersebut kontras dengan sejumlah saham besar lainnya yang justru mengalami koreksi tajam. Misalnya, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang merosot 11,47% ke Rp66.952. Selain itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) turun 10,41% ke Rp4.950 dan saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) anjlok 14,67% ke level Rp4.480.
Analis Menilai Konflik AS–Iran Mengangkat Prospek Saham Batu Bara
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, menjelaskan konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga energi global. Situasi tersebut kemudian memberikan katalis positif bagi saham emiten batu bara.
Dalam riset yang diterbitkan pada 5 Maret 2026, keduanya menjelaskan bahwa gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah dapat mengangkat harga minyak mentah dan liquefied natural gas (LNG). Kenaikan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan penggunaan batu bara termal di sejumlah wilayah seperti India, Asia Tenggara, hingga sebagian negara di Eropa.
Jika gangguan pasokan minyak hanya berlangsung dalam jangka pendek, permintaan batu bara termal global diperkirakan bertambah sekitar 40 juta hingga 55 juta ton. Dalam kondisi ini, harga batu bara Newcastle berpotensi naik ke kisaran US$130 hingga US$150 per ton.
Namun, jika gangguan pasokan berlangsung dalam periode menengah, permintaan batu bara dapat meningkat lebih dari 91 juta ton dengan proyeksi harga berada pada rentang US$150 hingga US$175 per ton.
Sementara itu, dalam skenario gangguan berkepanjangan, permintaan batu bara diperkirakan melampaui 180 juta ton. Kondisi tersebut dapat mendorong harga batu bara global melonjak hingga kisaran US$200 sampai US$250 per ton. Sebagai perbandingan, harga batu bara Newcastle tercatat berada di level US$107,5 per ton pada akhir 2025.
Sekuritas Menjadikan AADI Pilihan Utama di Sektor Batu Bara
Melihat potensi kenaikan harga komoditas tersebut, BRI Danareksa Sekuritas meningkatkan rekomendasi sektor batu bara menjadi overweight. Langkah ini mencerminkan pandangan positif terhadap prospek kinerja emiten batu bara dalam beberapa tahun mendatang.
Di antara emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, sekuritas tersebut menempatkan AADI sebagai pilihan utama atau top picks. Analis memperkirakan laba perusahaan berpotensi meningkat antara 20% hingga 94% sepanjang periode 2026 hingga 2028.
BRI Danareksa Sekuritas juga memberikan rekomendasi beli untuk saham AADI dengan target harga pada kisaran Rp12.100 hingga Rp15.840 dalam skenario harga batu bara yang bullish.
Selain AADI, sejumlah emiten batu bara lainnya juga dinilai memiliki prospek positif. Sekuritas tersebut menetapkan target harga Rp2.630 untuk saham ADRO, Rp26.500 untuk ITMG, Rp3.100 untuk PTBA, serta Rp32.000 untuk saham UNTR.
