IHSG Sesi I 12 Maret 2026 Menguat ke 7.428,78 Didukung Lonjakan Saham Konglomerat

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan pada sesi I perdagangan Kamis (12/3/2026). Kenaikan indeks terjadi setelah sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerat mencatat kinerja positif sepanjang tiga jam pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menutup sesi pertama dengan kenaikan 0,53 persen sehingga berada di level 7.428,78. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 7.323,74 hingga 7.434,66. Penguatan ini terjadi setelah IHSG sempat melemah pada awal pembukaan perdagangan, sebelum akhirnya berbalik arah dan masuk ke zona hijau.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat beli investor kembali muncul setelah tekanan pada sesi sebelumnya. Dengan demikian, sejumlah saham berkapitalisasi besar mulai memberikan kontribusi terhadap penguatan indeks pada siang hari.
Saham Grup Salim, MNC, dan Alamtri Mengangkat Pergerakan IHSG
Sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerat tampil dominan dalam menopang pergerakan IHSG. Emiten yang berada di bawah grup Salim mencatat kenaikan harga yang cukup signifikan selama sesi perdagangan berlangsung.
Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) naik 3,45 persen ke level Rp7.500. Sementara itu, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) turut menguat 0,41 persen ke posisi Rp6.050. Kenaikan juga terjadi pada saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) yang meningkat 2,75 persen ke Rp1.310, serta PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) yang naik 2,56 persen ke Rp600.
Selain grup Salim, saham milik pengusaha Hary Tanoesoedibjo juga mencatat pergerakan positif. PT MNC Energy Investments Tbk. (IATA) menguat 4,48 persen ke Rp70, sementara PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG) naik 1,96 persen ke Rp104.
Kinerja paling mencolok datang dari PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) yang melesat 12,14 persen ke Rp545. Di sisi lain, PT Tripar Multivision Plus Tbk. (RAAM) ikut naik 0,58 persen ke Rp174.
Saham-saham milik Boy Thohir juga menunjukkan penguatan signifikan. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) melonjak 6,23 persen ke Rp10.225. Kemudian, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 2,42 persen ke Rp1.905, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) meningkat 5,96 persen ke Rp2.490, serta PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) naik 4,86 persen ke Rp755.
Sejumlah Saham Konglomerat Lain Justru Melemah di Tengah Penguatan Indeks
Meskipun banyak saham konglomerat mencatat kenaikan, sebagian emiten lain justru bergerak ke arah sebaliknya. Beberapa saham milik kelompok usaha tertentu mengalami tekanan jual pada sesi perdagangan yang sama.
Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) terkoreksi 3,27 persen ke Rp1.035. Kemudian, PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) turun 3,55 persen ke Rp272. Tekanan juga terjadi pada saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) yang melemah 1,38 persen ke Rp3.560 serta PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) yang turun 3,23 persen ke Rp5.250.
Selain itu, sejumlah saham yang terafiliasi dengan grup Bakrie juga mengalami penurunan harga. PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melemah 1,19 persen ke Rp830, sementara PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 2,34 persen ke Rp418.
Saham PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) juga terkoreksi 4,55 persen ke Rp42. Bahkan, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) mencatat penurunan paling dalam di kelompok tersebut dengan pelemahan 8,28 persen ke level Rp266.
Konflik Timur Tengah dan Aksi Jual Asing Menekan Sentimen Pasar
Di tengah penguatan IHSG pada sesi pertama, pasar tetap menghadapi tekanan dari sentimen global. Fluktuasi harga komoditas energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah masih membayangi pergerakan pasar saham.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menjelaskan bahwa pada perdagangan sebelumnya IHSG tertekan oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai sekitar Rp730 miliar. Tekanan jual tersebut terutama terjadi pada saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BBRI, serta saham komoditas termasuk BUMI, DEWA, dan TINS.
Menurut Fanny, kondisi pasar saat ini masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Ia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 7.180 hingga 7.300, sedangkan level resistance berada pada kisaran 7.450 sampai 7.500.
Selain itu, sentimen global juga dipengaruhi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan mengenai penenggelaman kapal Iran di Selat Hormuz oleh pasukan Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru di pasar global.
Peristiwa tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 4 persen ke level US$87,25 per barel, sedangkan Brent Crude naik sekitar 4,8 persen menjadi US$91,98 per barel.
Kenaikan harga energi ini terjadi meskipun International Energy Agency (IEA) berencana melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasar global.
