Investor Memanfaatkan Koreksi Pasar Saham untuk Memburu Diskon Saham Konglomerat dan Big Banks

JAKARTA — Pelemahan pasar saham sejak awal 2026 membuka peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham berkapitalisasi besar yang kini diperdagangkan pada valuasi lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Kondisi ini muncul setelah pasar menghadapi tekanan dari berbagai sentimen global dan domestik.
Tekanan tersebut berasal dari arus keluar dana asing, penyesuaian indeks global seperti MSCI, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini mendorong banyak investor mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko sehingga memicu tekanan jual di berbagai sektor.
Di tengah tekanan pasar tersebut, sejumlah saham unggulan justru mulai terlihat menarik bagi investor yang mengincar peluang jangka menengah hingga panjang. Beberapa saham besar seperti BBCA hingga ASII bahkan mulai dipandang sebagai saham diskon jika dilihat dari pendekatan valuasi.
Koreksi Harga Membuat Saham Big Caps Diperdagangkan Lebih Murah
Penurunan harga saham membuat sejumlah emiten besar diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terlihat jelas pada saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
Berdasarkan harga penutupan perdagangan Senin, 9 Maret 2026, rasio price to earnings (PE) BBCA tercatat berada di level 14,73 kali. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata PE lima tahun terakhir yang mencapai sekitar 20,68 kali.
Selain itu, saham PT Astra International Tbk. (ASII) juga masuk dalam kategori saham berkapitalisasi besar dengan valuasi relatif murah. Pada periode yang sama, ASII mencatat rasio PE sebesar 7,23 kali dengan tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) di atas 7 persen.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa koreksi harga pada sejumlah saham berfundamental kuat tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.
Secara year to date hingga penutupan perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp8,80 triliun di seluruh pasar saham Indonesia.
Menurut Wafi, kondisi ini dipicu oleh sentimen makro global yang membuat investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Ia menilai sejumlah saham bank besar seperti BMRI, BBRI, dan BBCA serta saham konglomerasi seperti ASII dan INDF saat ini berada pada level harga yang relatif murah dibandingkan fundamentalnya.
Analis Menyarankan Investor Mengutamakan Fundamental Perusahaan
Meskipun valuasi saham terlihat menarik, analis tetap mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada rasio price to earnings yang rendah saat mengambil keputusan investasi.
Wafi mencontohkan bahwa saham dengan valuasi murah belum tentu otomatis menjadi pilihan investasi yang menarik. Ia menyebut saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) sebagai contoh potensi value trap karena menghadapi tekanan fundamental seperti penurunan pangsa pasar serta margin yang semakin tertekan.
Selain itu, saham PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) juga dinilai menghadapi tantangan struktural akibat perubahan model bisnis industri media dan penurunan belanja iklan.
Oleh sebab itu, investor disarankan untuk menilai kondisi fundamental perusahaan secara menyeluruh sebelum melakukan pembelian saham.
Wafi menekankan bahwa investor sebaiknya mengombinasikan beberapa indikator keuangan, seperti rasio PE rendah, ROE tinggi di atas 15 persen, rasio utang yang sehat dengan debt to equity ratio (DER) rendah, arus kas operasi yang positif, serta rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Ia juga menyarankan strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness pada saham-saham berkualitas seperti BMRI, BBRI, BBCA, INDF, dan ASII.
Analis Menilai Momentum Sektoral Membuka Peluang pada LSIP dan AKRA
Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan juga melihat peluang investasi pada saham-saham yang saat ini diperdagangkan di bawah valuasi wajarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang umum digunakan untuk mengidentifikasi saham undervalued adalah rasio price to earnings yang membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham atau earnings per share (EPS).
Namun demikian, Ekky mengingatkan bahwa indikator valuasi tersebut tetap perlu dikombinasikan dengan analisis fundamental perusahaan serta prospek sektor usaha.
Menurutnya, beberapa saham seperti PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) layak diperhatikan karena didukung momentum sektoral yang positif.
LSIP mendapat dukungan dari prospek harga komoditas crude palm oil (CPO), sementara AKRA memiliki katalis pertumbuhan dari aktivitas perdagangan energi serta pengembangan kawasan industri.
Ekky menilai bahwa dalam banyak kasus saat ini, valuasi saham yang terlihat murah lebih dipengaruhi oleh tekanan sentimen pasar dibandingkan pelemahan fundamental perusahaan.
Sentimen global yang bergejolak membuat investor meningkatkan porsi kas dan mengurangi investasi pada aset berisiko sehingga tekanan jual terjadi secara luas di pasar saham.
Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan untuk mengombinasikan analisis valuasi, fundamental perusahaan, serta momentum sektor agar keputusan investasi menjadi lebih terukur.
