IHSG Membuka Perdagangan Jumat dengan Pelemahan 0,32% ke Level 7.338

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pada Jumat, 13 Maret 2026, dengan pergerakan negatif. Pada awal sesi, indeks turun 23,3 poin atau sekitar 0,32 persen sehingga berada di posisi 7.338,82.
Tekanan di pasar saham terlihat dari dominasi saham yang bergerak turun pada pembukaan perdagangan. Tercatat sebanyak 195 saham mengalami penurunan harga, sementara 141 saham menguat dan 622 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi pada sesi pre-opening juga menunjukkan pergerakan awal pasar. Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp178,7 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 252,5 juta saham dalam 26.620 kali transaksi.
Seiring pelemahan tersebut, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut mengalami penurunan. Nilai kapitalisasi pasar tercatat berada di kisaran Rp13.094 triliun pada awal perdagangan.
Investor Global Mencermati Data Ekonomi Amerika Serikat
Pelaku pasar juga menaruh perhatian pada sejumlah data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi sentimen global. Pemerintah Amerika Serikat melaporkan penurunan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis sebelumnya.
Jumlah klaim awal pengangguran tercatat turun sebanyak 1.000 menjadi 213.000 pada pekan pertama Maret. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar yang berada di level 215.000 dan masih berada dalam rentang yang relatif stabil selama beberapa pekan terakhir.
Selain itu, klaim pengangguran berkelanjutan atau continuing jobless claims juga mengalami penurunan. Jumlah penerima bantuan pengangguran tercatat berkurang 21.000 menjadi sekitar 1.850.000 pada pekan terakhir Februari.
Data ini memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja di Amerika Serikat yang masih menunjukkan ketahanan meskipun ekonomi global menghadapi berbagai ketidakpastian.
Konflik Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Minyak Global
Di sisi lain, pasar global juga merespons meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Operasi militer besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta keamanan jalur pasokan energi dunia.
Situasi tersebut ikut memicu lonjakan harga minyak global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga US$100,72 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$95,37 per barel.
Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, harga minyak bahkan telah melonjak lebih dari 38 persen. Kenaikan tajam ini terjadi setelah serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas pelabuhan minyak di perairan Irak yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi, termasuk Selat Hormuz.
Pihak militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga mencapai US$200 per barel jika ketegangan di kawasan terus meningkat.
Pasar Saham Asia Turut Tertekan oleh Ketidakpastian Global
Ketegangan geopolitik yang berpotensi berkepanjangan juga memicu kekhawatiran investor di kawasan Asia. Sentimen tersebut membuat sejumlah indeks saham utama di Asia bergerak melemah pada awal perdagangan.
Indeks S&P/ASX 200 di Australia tercatat turun sekitar 0,3 persen pada sesi awal. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang merosot sekitar 2 persen dan indeks Topix yang lebih luas juga melemah sekitar 1,4 persen.
Tekanan serupa juga terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi tercatat turun hampir 3 persen, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melemah mendekati 2 persen.
Pergerakan pasar regional tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor global yang terus memantau perkembangan geopolitik serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi dunia.
