IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi di Tengah Tekanan Global

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026, diperkirakan masih menghadapi tekanan lanjutan. Sejumlah analis menilai pasar belum keluar dari fase koreksi setelah mencatat pelemahan signifikan sepanjang pekan sebelumnya.
IHSG tercatat turun 5,91% ke level 7.137,21 pada periode 9–13 Maret 2026. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia yang menyusut 6,96% menjadi Rp12.678 triliun dari Rp13.627 triliun pada pekan sebelumnya.
BEI Mencatat Penurunan Aktivitas Transaksi Pasar
Bursa Efek Indonesia juga mencatat penurunan aktivitas perdagangan selama periode tersebut. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyampaikan bahwa rata-rata volume transaksi harian turun 25,49% menjadi 31,55 miliar saham dari sebelumnya 42,34 miliar saham.
Penurunan juga terjadi pada frekuensi transaksi harian yang merosot 31,53% menjadi 1,87 juta kali transaksi. Selain itu, nilai transaksi harian turut melemah 31,10% menjadi Rp17,2 triliun dari Rp24,97 triliun pada pekan sebelumnya.
Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp117,17 miliar pada Jumat (14/3/2026). Sepanjang tahun berjalan 2026, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp8,85 triliun.
Analis Memproyeksikan IHSG Bergerak di Rentang Support dan Resistance
Tim analis MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi lanjutan. Secara teknikal, indeks diperkirakan berpotensi bergerak dalam rentang 6.991 hingga 7.140 sebagai area pelemahan lanjutan.
Sementara itu, peluang penguatan jangka pendek berada pada kisaran 7.241 hingga 7.308. Level support diproyeksikan berada di 7.071 dan 6.971, sedangkan resistance berada di 7.527 dan 7.678.
Dalam kondisi ini, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT Petrosea Tbk. (PTRO), dan PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG). Selain itu, saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) dinilai layak untuk speculative buy.
Ketegangan Global dan Faktor Musiman Menekan Sentimen Pasar
Tekanan terhadap IHSG juga berasal dari ketidakpastian global yang masih tinggi. Analis Indopremier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu sikap hati-hati investor global.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar mengadopsi strategi risk-off, sehingga volatilitas pasar tetap tinggi. Selain itu, kebijakan Iran yang menutup Selat Hormuz sejak akhir Februari turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Meski demikian, terdapat perkembangan baru setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa jalur tersebut tetap terbuka untuk kapal dari negara tertentu. Pernyataan ini memberi sedikit sentimen berbeda, meski belum cukup meredakan kekhawatiran pasar.
Dari dalam negeri, investor juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah dalam menjaga defisit APBN. Faktor ini menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor.
IHSG Dibuka Melemah dan Kembali ke Level Terendah Sejak 2025
Pada awal perdagangan Senin pagi pukul 09.05 WIB, IHSG langsung dibuka melemah 2,18% ke level 6.981,71. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 92 saham menguat, sementara 560 saham melemah dan 308 saham stagnan.
Level tersebut menjadi posisi terendah IHSG sejak Juli 2025, sekaligus mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar. Selain faktor global, kondisi ini juga dipengaruhi sentimen musiman menjelang libur panjang Nyepi dan Idul Fitri yang membuat aktivitas perdagangan cenderung terbatas.
Dengan waktu perdagangan yang hanya berlangsung dua hari pada pekan tersebut, investor cenderung menahan diri untuk mengambil posisi baru hingga periode libur berakhir.
